PAPUA — Musim panas di Jepang tahun ini kembali diramaikan oleh kedatangan semangka persegi. Petani di Zentsuji, Prefektur Kagawa, memulai pengiriman buah ikonik tersebut pada Selasa (1/7) dengan target total 400 buah hingga pertengahan Juli. Setiap semangka berbentuk kubus berukuran 18 sentimeter itu dibanderol 10.000 yen, atau sekitar Rp1,1 juta per buah.
Di pusat pengumpulan, para petani dan pekerja memeriksa satu per satu bentuk semangka sebelum mengemasnya ke dalam kotak. "Panen tahun ini berjalan dengan baik," kata petani senior Toshiyuki Yamashita (78) kepada Kyodo News. "Saya harap orang-orang akan merasakan bahwa musim panas telah tiba ketika mereka melihat semangka," tandasnya.
Dekorasi Musim Panas yang Tidak Bisa Dimakan
Meski harganya selangit, semangka persegi bukanlah buah konsumsi. Rasa manisnya sedikit dan daging buahnya tidak matang sempurna karena dipanen sebelum waktunya. Fungsi utamanya adalah sebagai pajangan atau hadiah dekoratif khas musim panas.
Proses pembentukan semangka ini cukup unik. Buah ditanam dalam wadah persegi transparan dengan rangka logam setelah mencapai ukuran tertentu. Bentuk kubus pun terbentuk secara alami mengikuti cetakan. Ide ini pertama kali dikembangkan sekitar 50 tahun lalu oleh sekelompok petani lokal agar buah lebih mudah disimpan di lemari es.
Sejarah Panjang dan Nasib Petani yang Menyusut
Semangka persegi Zentsuji memiliki sejarah yang panjang. Pada 1978, ahli hortikultura sekaligus seniman Jepang, Tomoyuki Ono, mengajukan paten untuk 'proses pencetakan buah alami' dan memamerkan karyanya di galeri. Ketika semangka persegi mulai dipasarkan pada 1979, harganya sekitar 20 dolar AS per buah di Tokyo, jauh di atas semangka biasa yang hanya 9 dolar AS.
Namun, popularitasnya tidak serta-merta menjamin keberlangsungan usaha. Saat ini, hanya tujuh pertanian yang tersisa yang menanam semangka persegi di Zentsuji. Jumlah ini menyusut drastis dari masa kejayaannya. Meskipun paten Ono mengklaim rasa buah yang dicetak tidak kalah dari buah alami, semangka persegi modern lebih banyak dibeli untuk dipajang daripada dimakan.
Meski jumlah petani terbatas, permintaan terhadap semangka persegi sebagai simbol musim panas di Jepang masih ada. Para petani berharap tradisi ini terus lestari, setidaknya sebagai pengingat bahwa musim panas telah tiba setiap kali orang melihat bentuk kubusnya yang khas.