MERAUKE — Abrasi di kawasan Pantai Lampu Satu, Merauke, Papua Selatan, kian mengkhawatirkan. Garis pantai di sejumlah titik telah bergeser hingga 100 meter akibat terjangan gelombang laut dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mengancam permukiman dan ekosistem pesisir di wilayah tersebut.
Dampak Abrasi: Garis Pantai Mundur Ratusan Meter
Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pergeseran garis pantai terjadi secara signifikan. Di beberapa lokasi, daratan tergerus hingga 100 meter ke arah darat. Fenomena ini terjadi secara perlahan namun konsisten dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan.
Pantai Lampu Satu sendiri merupakan salah satu kawasan pesisir yang cukup dikenal di Merauke. Abrasi yang terus terjadi dikhawatirkan dapat memicu kerusakan infrastruktur dan pemukiman warga yang berada di dekat bibir pantai.
Apa yang Menyebabkan Abrasi di Merauke?
Kementerian PU mencatat bahwa terjangan gelombang laut menjadi faktor utama pendorong abrasi di kawasan ini. Intensitas gelombang yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir mempercepat proses pengikisan garis pantai. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah setempat mengenai langkah penanganan darurat.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi di pesisir selatan Papua. Beberapa wilayah di pesisir Merauke sebelumnya juga dilaporkan mengalami abrasi, meski dengan skala yang berbeda.
Langkah Penanganan yang Dinanti
Masyarakat pesisir Merauke berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi abrasi. Pembangunan pemecah gelombang atau penanaman vegetasi pantai kerap menjadi solusi yang diterapkan di daerah lain. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai rencana penanganan di Pantai Lampu Satu.
Dokumentasi yang dirilis Kementerian PU menunjukkan kondisi terkini garis pantai yang terus menyusut. Data ini diharapkan menjadi dasar bagi pemangku kepentingan untuk menyusun strategi mitigasi bencana pesisir di Papua Selatan.