PAPUA — Sidang dengar pendapat yang berlangsung di Washington, Selasa waktu setempat, menjadi panggung pertama bagi Warsh sejak resmi menjabat sebagai Ketua The Fed. Para anggota Kongres dan pelaku pasar menanti petunjuk arah kebijakan moneter AS, khususnya terkait suku bunga acuan yang saat ini berada di level tertinggi dalam dua dekade.
Sikap The Fed: Komitmen Kuat, Taktik Samar
Dalam pernyataan pembukaannya, Warsh menegaskan bahwa tugas utama The Fed adalah mengembalikan inflasi ke target 2%. "Kami tidak akan gentar," ujarnya, menekankan bahwa tekanan harga masih menjadi ancaman utama bagi stabilitas ekonomi.
Namun, ketika ditanya anggota Komite Perbankan Senat soal kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya, Warsh hanya menjawab bahwa keputusan akan diambil berdasarkan data yang masuk. Ia tidak menyebutkan secara eksplisit apakah kenaikan suku bunga masih diperlukan atau jeda kebijakan sudah tepat.
Pasar Butuh Kejelasan, The Fed Beri Ketidakpastian
Sikap hati-hati Warsh ini langsung direspons oleh pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak naik tipis ke 4,32%, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa The Fed mungkin mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.
Di sisi lain, indeks dolar AS justru melemah 0,3% terhadap sekeranjang mata uang utama. Ini menunjukkan bahwa pernyataan Warsh yang tidak memberikan sinyal hawkish jelas justru diartikan oleh sebagian pelaku pasar sebagai peluang The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan.
Apa Artinya bagi Indonesia
Bagi pasar keuangan Indonesia, ketidakjelasan arah suku bunga The Fed menjadi faktor risiko tersendiri. Selama ini, rupiah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga global.
Kurs rupiah di pasar non-deliverable forwards (NDF) sempat bergerak fluktuatif setelah pernyataan Warsh dirilis. Analis memperkirakan Bank Indonesia akan terus mempertahankan sikap intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar di kisaran Rp 15.800-Rp 16.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
Investor di pasar saham Indonesia pun disarankan mencermati data inflasi AS berikutnya yang akan dirilis pekan depan. Data tersebut akan menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan langkah suku bunga selanjutnya.