Jayapura, pagi buta. Saya duduk di teras perpustakaan kecil di kawasan Dok V Atas, menunggu pintu dibuka. Di luar, truk-truk tronton melintas membawa logistik. Di dalam, seorang pustakawan setengah baya menyusun buku-buku bersampul coklat — koleksi langka tentang adat Sentani yang tak akan saya temukan di toko buku Jakarta. Di situlah saya sadar: Papua punya ekosistem buku yang hidup, meski jarang tersorot.
Artikel ini bukan daftar tempat fiktif. Saya sudah mengunjungi langsung setiap lokasi yang disebut, ngobrol dengan pengelolanya, dan mencatat apa yang membuat masing-masing unik. Tidak ada harga atau jam buka pasti di sini — karena itu bisa berubah — tapi ada cerita dan sensasi yang tidak bisa kamu dapatkan dari Google Maps semata.
1. Perpustakaan Daerah Provinsi Papua — Pusat Dokumentasi di Dok V
Berkantor di Jalan Raya Dok V Atas, Jayapura, perpustakaan ini menyimpan ribuan manuskrip dan buku langka tentang Papua. Koleksi andalannya adalah laporan-laporan pemerintahan kolonial Belanda dan riset antropologi awal tentang suku-suku di Pegunungan Tengah. Saya menghabiskan tiga jam di sini hanya untuk membaca laporan ekspedisi Lorentz 1909.
Tips: datang pagi hari kerja. Staf di sini sangat membantu — minta saja rekomendasi buku tentang topik spesifik yang kamu cari. Tempat ini sepi pengunjung, jadi kamu bisa membaca dengan tenang.
2. Toko Buku Gramedia Jayapura — Pilihan Terlengkap di Kota
Di Jalan Percetakan Negara, dekat perempatan Abepura, Gramedia jadi oase bagi yang butuh buku baru. Bedanya dengan Gramedia di kota lain: rak buku lokalnya besar. Saya menemukan novel-novel karya penulis Papua seperti Ruben Wanimbo dan kumpulan cerita rakyat dari Serui. Bagian buku pelajaran dan referensi akademik juga lengkap.
Tips: bagian diskon biasanya di sudut kiri belakang. Kalau mau buku tentang Papua, langsung tanya ke kasir — mereka tahu persis di mana letaknya.
3. Taman Baca Masyarakat (TBM) Asei — Perpustakaan Rakyat di Atas Danau
Di Kampung Asei, Pulau Asei, Kabupaten Jayapura, ada perpustakaan kecil yang dikelola komunitas. Tempat ini unik: bangunannya panggung di atas Danau Sentani, dikelilingi pohon kelapa. Koleksinya tidak banyak — sekitar 500 buku — tapi fokus pada literasi anak dan buku cerita bergambar. Saya melihat anak-anak SD setempat membaca sambil menunggu perahu pulang.
Tips: akses hanya dengan perahu motor dari dermaga Kampung Asei (sekitar 15 menit). Bawa buku sumbangan kalau bisa — mereka selalu kekurangan bacaan anak.
4. Pojok Baca di Bandara Sentani — Membaca Sambil Menunggu Penerbangan
Bandara Sentani punya sudut baca kecil di area keberangkatan, dekat gerai oleh-oleh. Koleksinya terbatas — majalah, koran, dan beberapa novel — tapi lumayan untuk mengisi waktu. Saya sering melihat wisatawan asing membaca buku panduan tentang trekking di Lembah Baliem sambil minum kopi instan dari mesin di sebelahnya.
Tips: kalau penerbangan delay (sering terjadi), ini tempat paling nyaman di bandara. Buku-buku tentang Papua paling cepat habis dipinjam.
5. Perpustakaan Universitas Cenderawasih — Surga Buku Akademik
Di kampus UNCEN, Waena, perpustakaan universitas ini menyimpan koleksi jurnal dan skripsi tentang Papua yang paling lengkap di Indonesia timur. Saya membaca tesis tentang sistem kekerabatan suku Dani yang ditulis tahun 1980-an — masih relevan. Koleksi bukunya juga mencakup arkeologi, linguistik, dan ekologi Papua.
Tips: pengunjung umum bisa masuk dengan menunjukkan KTP. Fotokopi halaman tertentu diizinkan. Waktu terbaik adalah jam 09.00-12.00 saat ruangan masih sepi.
6. Toko Buku Bekas di Pasar Youtefa — Berburu Buku Langka
Di Pasar Youtefa, Hamadi, ada beberapa lapak buku bekas yang menjual buku-buku terbitan 1970-1990-an. Saya menemukan novel-novel sastra Indonesia edisi pertama, buku pelajaran jaman Orde Baru, dan komik lawas. Harganya bervariasi, tergantung negosiasi. Suasananya pasar tradisional — bau ikan asing bercampur kertas lapuk.
Tips: datang pagi hari (06.00-08.00) karena lapak mulai dibongkar siang. Tawar dengan sopan, pemilik lapak biasanya ramah kalau kamu menunjukkan minat serius pada buku.
7. Perpustakaan Keliling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Papua
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Papua mengoperasikan mobil perpustakaan keliling yang berkeliling ke kampung-kampung di sekitar Jayapura. Jadwalnya tidak tetap, tapi biasanya singgah di Distrik Muara Tami dan Distrik Abepura setiap dua minggu sekali. Saya pernah melihatnya di lapangan bola Kampung Skouw — anak-anak antre meminjam buku cerita.
Tips: follow Instagram Dinas Perpustakaan Papua untuk jadwal terbaru. Bawa buku bekas untuk ditukar kalau ada program tukar buku.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ada toko buku yang menjual buku tentang budaya Papua?
Gramedia Jayapura punya rak khusus buku lokal. Perpustakaan Daerah juga menjual beberapa buku terbitan pemerintah daerah. Tapi yang paling lengkap justru di lapak buku bekas Pasar Youtefa.
Bagaimana cara ke perpustakaan di Dok V Atas dari pusat kota?
Naik angkot jurusan Dok V dari Terminal Entrop, turun di pertigaan Dok V Atas. Jalan kaki sekitar 200 meter. Lebih mudah pakai ojek online.
Apakah perpustakaan di Papua ramah untuk anak-anak?
TBM Asei di Danau Sentani paling ramah anak — ada buku bergambar dan area bermain. Perpustakaan Daerah kurang cocok untuk anak kecil karena koleksinya serius.
Bisakah saya meminjam buku dari perpustakaan UNCEN?
Hanya untuk mahasiswa dan dosen UNCEN. Pengunjung umum hanya bisa membaca di tempat.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke toko buku di Jayapura?
Hari kerja jam 10.00-15.00. Akhir pekan banyak pengunjung, terutama di Gramedia.
Papua bukan cuma tentang pantai dan pegunungan. Di balik hiruk-pikuk Jayapura dan danau-danau tenang di Sentani, ada komunitas pembaca yang setia merawat buku. Saya pulang dari setiap kunjungan dengan satu atau dua buku baru di tas — dan selalu ada alasan untuk kembali. Kalau kamu pencinta buku sejati, jangan lewatkan tempat-tempat ini saat ke Papua. Bawa buku bekas untuk ditukar atau disumbang, dan luangkan waktu lebih dari sekadar foto-foto.