PAPUA — Bayangkan sebuah titik muncul tiba-tiba di layar besar, melambangkan drone yang terbang mendekati zona terlarang di dekat Stadion AT&T di Arlington, Texas, Amerika Serikat. Dalam hitungan detik, drone "sahabat" melesat untuk mencegat dan memutar balikkan pesawat mini tersebut. Adegan ini bukan adegan film, melainkan demonstrasi nyata yang digelar AT&T dan Ericsson bertepatan dengan ajang olahraga dunia, World Cup.
Yang menarik, drone nakal itu tidak dideteksi oleh radar konvensional, melainkan oleh menara pemancar sinyal 5G yang biasa kita lihat di berbagai sudut kota. Demonstrasi ini adalah bukti konsep (proof-of-concept) untuk teknologi ISAC yang memungkinkan jaringan seluler tidak hanya mengirim data, tapi juga "merasakan" objek di sekitarnya.
Bagaimana Jaringan 5G Bisa Melacak Drone?
Dalam demonstrasi tersebut, AT&T dan Ericsson menggunakan tiga menara BTS yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari area demo. Ketiga menara ini dilengkapi dengan radio Ericsson Massive MIMO yang sama seperti yang ada di menara komersial, namun dengan kemampuan sensing yang diaktifkan.
Ketika drone memasuki area yang dipantau, sistem langsung mengklasifikasikannya sebagai drone yang terbang dengan kecepatan sekitar 18 km/jam. Proses klasifikasi ini menggunakan pemrosesan sinyal dan algoritma kecerdasan buatan (AI). Jika drone tersebut merupakan ancaman nyata, data langsung bisa dikirimkan ke aparat keamanan seperti Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Menariknya lagi, AT&T mengklaim sistem ini tidak hanya bisa melacak satu drone, tetapi juga mampu melacak kawanan drone (swarm) sekaligus.
Kenapa Pakai Jaringan 5G, Bukan Radar?
Radar konvensional memang sudah terbukti handal melacak pesawat di ketinggian, tapi punya kelemahan: mahal, butuh perangkat keras khusus, dan biasanya hanya memindai area di ketinggian tinggi. Sebaliknya, jaringan seluler sudah memiliki ribuan menara yang tersebar luas hingga ke permukaan tanah.
Robert Soni, Vice President Radio Access Network Technology AT&T, menjelaskan bahwa perusahaannya memiliki 75.000 lokasi menara di seluruh Amerika Utara. "Ini adalah jumlah yang signifikan dan sulit ditiru dengan membangun radar khusus," ujarnya dalam sebuah briefing. "Kami juga lebih dekat ke tanah, dan karena sudut elevasi kami, kami bisa menjangkau ketinggian yang lebih rendah daripada radar berbasis udara tradisional. Kami bisa melihat lebih banyak wilayah."
Akhil Gokul, Vice President dan Head of Technology untuk Amerika di Ericsson, menambahkan bahwa kepadatan menara yang memiliki kemampuan sensing menghasilkan akurasi yang lebih tinggi. "Karena Anda mendapatkan pantulan gelombang radio dari banyak menara, Anda bisa mendapatkan data yang jauh lebih kaya untuk dimasukkan ke dalam model kami," jelasnya.
Pendekatan ini juga membuat sistem pelacakan berbasis 5G lebih tangguh. Tidak ada satu titik kegagalan (single point of failure); jaringan seluler sudah memiliki kemampuan untuk secara otomatis berkompensasi jika sebuah menara offline karena perawatan atau cuaca ekstrem.
Dari Teknologi 6G, Diuji di Jaringan 5G
Yang menarik, teknologi sensing ini sebenarnya diproyeksikan menjadi bagian dari standar 6G di masa depan. Namun, AT&T dan Ericsson tidak mau menunggu hingga 2030 untuk mulai mengujinya.
"Dari sudut pandang teknologi, ini dipandang sebagai kemampuan 6G, dan ini sebenarnya sedang dikembangkan dalam standar," kata Gokul. "Apa yang kami lakukan dalam kolaborasi dengan AT&T adalah mempercepatnya lebih awal."
Yigal Elbaz, Senior Vice President dan Network Chief Technology Officer AT&T, menekankan nilai dari memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada. "Saya pikir industri selalu mencari apa lagi yang bisa dilakukan jaringan nirkabel," ujarnya. "Seperti hal lainnya, Anda selalu ingin mendorong untuk melihat apa yang sudah bisa Anda lakukan dengan infrastruktur yang ada."
Dampak untuk Keamanan Publik
Demonstrasi ini hadir di tengah meningkatnya penyalahgunaan drone di area terlarang. Menurut Reuters, FBI mengatakan lebih dari 700 drone disita oleh lembaga AS selama perhelatan World Cup. Beberapa di antaranya diterbangkan oleh operator yang tidak sadar sedang berada di zona larangan terbang yang diperluas untuk pertandingan.
Dengan teknologi ISAC, petugas keamanan bisa mendapatkan data real-time dari jaringan yang sudah ada tanpa harus memasang radar baru. Ini menjadi solusi yang lebih hemat biaya dan cepat untuk mengamankan event besar seperti Olimpiade 2028 di Los Angeles atau bahkan acara publik skala lebih kecil. Teknologi yang terlihat futuristik ini, perlahan tapi pasti, mulai diuji di dunia nyata.