PAPUA — Serangan udara Amerika Serikat yang memasuki malam kesembilan terhadap fasilitas militer Iran memicu lonjakan signifikan harga minyak dunia. Mengutip data CNBC, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September melesat hingga menembus level psikologis 90 dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 2,4 persen ke posisi 84,49 dolar AS per barel.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Gangguan Pasokan
Kekhawatiran utama pasar bukan semata pada serangan darat, melainkan ancaman terhadap Selat Hormuz. Jalur ini menangani sekitar seperlima konsumsi minyak global. Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi gempuran mereka menyasar sistem pengawasan pantai, pertahanan udara, hingga aset maritim Iran yang berpotensi mengganggu kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi selat tersebut.
"Serangan akan terus berlanjut untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal komersial," bunyi pernyataan resmi Centcom melalui akun X/Twitter. Eskalasi ini terjadi setelah tewasnya prajurit AS ketiga dalam operasi terbaru di kawasan tersebut.
Stok Global Menipis, Target Harga Tembus 105 Dolar AS
Analis memperingatkan bahwa situasi ini bukan sekadar gejolak jangka pendek. David Roche, pakar strategi dari Quantum Strategy, menilai pasar minyak mentah global saat ini semakin menipis seiring merosotnya volume ekspor dari kawasan Teluk. Ia memproyeksikan stok minyak global akan terkuras habis pada September mendatang jika konflik tak mereda.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan politik pada Presiden Donald Trump. Rekomendasi posisi long untuk Brent tetap dipertahankan dengan target 95 dolar AS hingga 105 dolar AS per barel," ujar Roche dalam risetnya.
Dampak ke Kantong Pengendara Indonesia
Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga minyak mentah selalu berbanding lurus dengan beban subsidi energi. Jika harga Brent bertahan di atas 90 dolar AS, pemerintah akan menghadapi tekanan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar agar APBN tidak jebol. Sementara itu, BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite sudah pasti akan mengikuti pergerakan harga pasar internasional.
Belum lagi efek domino ke harga bahan baku industri. Kenaikan harga minyak biasanya diikuti oleh kenaikan ongkos logistik yang pada akhirnya membuat harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik. Pengendara motor dan mobil di Indonesia harus bersiap menghadapi potensi kenaikan biaya operasional kendaraan dalam beberapa pekan ke depan.