Ben, jurnalis teknologi senior yang sudah memindahkan data ke unit review Galaxy Z Fold 8, mengaku masih berada dalam fase perasaan campur aduk. Dalam tulisannya, ia menyebutkan bahwa perangkat ini adalah perubahan arah paling jelas dari Samsung untuk lini foldable dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kesan pertama justru diwarnai kebingungan.
"Saya masuk ke sesi hands-on awal pekan ini dengan optimisme dan kegembiraan penuh. Saya siap jatuh cinta dengan bentuk baru ini, tapi justru pulang dengan perasaan konflik," tulisnya. Ia menjelaskan bahwa layar baru Galaxy Z Fold 8 memiliki prioritas yang sangat berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Layar Lebar Tapi Bukan untuk Menonton
Masalah utama ada pada rasio layar yang berubah. Layar eksternal Galaxy Z Fold 8 disebut lebih pendek dan gemuk, memberikan sensasi genggaman yang benar-benar baru. Namun, bentuk ini justru tidak ideal untuk memutar video.
"Tidak sebagus yang saya harapkan untuk menonton video, dan itu membuat saya sedikit sedih," ungkap Ben dalam salah satu artikel galeri yang ia rilis. Ia menambahkan bahwa pengguna yang sudah terbiasa dengan bentuk layar Galaxy Z Fold generasi sebelumnya mungkin akan merasakan perbedaan signifikan.
Performa Kamera dan Lipatan Layar yang Membaik
Meski begitu, tidak semuanya negatif. Dari segi hardware, Galaxy Z Fold 8 disebut sebagai peningkatan besar dibandingkan pendahulunya. Kualitas layar dinilai memukau, baik layar luar maupun layar utama. Lipatan layar (crease) juga disebut mengalami perbaikan besar, seperti yang ditampilkan dalam galeri khusus yang dirilis bersamaan.
Untuk sektor kamera, hasil jepretan dinilai cukup layak, meskipun jurnalis tersebut mengaku sudah merindukan lensa telefoto yang biasanya ada di generasi sebelumnya. Samsung juga dikabarkan membuat mekanisme pembuka ponsel lipat ini jauh lebih mudah dibandingkan model-model lama.
Perbandingan dengan Model Ultra: Soal Prioritas
Dalam analisisnya, Ben menyebutkan bahwa keputusan untuk memilih antara Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra adalah soal prioritas yang sulit. Keduanya menawarkan keunggulan yang berbeda, dan pengguna harus menentukan mana yang lebih penting: bentuk yang ringkas dan mudah digenggam, atau pengalaman multimedia yang maksimal.
Ia mengaku lebih sering menggunakan ponsel ini dalam keadaan terbuka dibandingkan saat memakai Galaxy Z Fold 7. Ini mengindikasikan bahwa desain baru mungkin lebih mendorong pengguna untuk memanfaatkan layar besar, meskipun ada kompromi pada aspek hiburan tertentu.
Program Trade-In dan Ketersediaan
Samsung juga mengumumkan program trade-in untuk seri Galaxy Z Fold 8. Nilai tukar tertinggi mencapai 1.200 dolar AS (sekitar Rp 19,2 juta), terlepas dari model ponsel lama apa yang ditukarkan. Angka ini cukup kompetitif dan bisa menjadi daya tarik bagi pengguna yang ingin beralih ke ponsel lipat terbaru.
Belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan Galaxy Z Fold 8 di Indonesia. Namun, melihat tren peluncuran global sebelumnya, pasar Tanah Air biasanya menjadi salah satu tujuan utama distribusi produk foldable Samsung.