Pencarian

Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas: Toleransi Beragama Jadi Modal Sosial Menuju Indonesia Emas

Minggu, 02 Agustus 2026 • 13:27:16 WIB
Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas: Toleransi Beragama Jadi Modal Sosial Menuju Indonesia Emas
Ribuan umat dari enam agama mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (1/8/2026) malam.

JAKARTA — Ribuan umat beragama dari enam keyakinan memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (1/8/2026) malam. Mereka hadir dalam Zikir dan Doa Kebangsaan lintas agama, sebuah ritual kebangsaan yang menjadi pengingat bahwa fondasi Indonesia berdiri di atas keberagaman, bukan keseragaman.

Kegiatan ini menjadi rangkaian penting menjelang peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI. Di tengah dinamika sosial politik yang kerap menguji keutuhan bangsa, doa bersama menjadi perekat yang merawat semangat persatuan.

Doa sebagai Fondasi Kehidupan Berbangsa

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta, Romo Agustinus Heri Wibowo, menegaskan bahwa doa bukan sekadar ritual, melainkan fondasi dasar kehidupan berbangsa yang religius.

"Semua daya upaya manusiawi kita, kerja sama di antara kita, dilandasi atas doa supaya Tuhan merestui, memberkati, dan menyempurnakan semua pekerjaan baik yang telah kita rencanakan, dan kita lakukan, dan akan kita laksanakan," ujarnya di sela-sela acara.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seluruh pembangunan dan capaian bangsa tidak lepas dari kekuatan spiritual yang menyertainya.

Apresiasi Lintas Keyakinan untuk Keharmonisan Bangsa

Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara, Pinandita Gede Pastika, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, doa kebangsaan menjadi wadah efektif untuk memperkuat keharmonisan di tengah kemajemukan Indonesia.

"Ini adalah bagaimana mempersatu umat seluruh, masyarakat, lapisan masyarakat di Indonesia untuk menyatukan dengan kebinekaan ini menjadi satu, menjadi keharmonisan yang luar biasa," katanya mewakili masyarakat Hindu.

Nilai Cinta Kasih dan Pancasila sebagai Perekat

Wakil Sekretaris Jenderal Sangha Agung Indonesia, Bhikkhu Bhadranatha Thera, mengingatkan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan membutuhkan landasan nilai yang kuat. Ia menyebut nilai cinta kasih dan Pancasila sebagai fondasi utama dalam merawat keberagaman.

"Untuk bisa menjaga persatuan dan kesatuan yang perlu kita jaga adalah nilai-nilai cinta kasih di dalam diri kita dan terlebih juga nilai-nilai dari Pancasila kita yang juga cukup kuat," ucapnya.

Ia menambahkan, keberagaman yang dirawat dengan cinta kasih akan membawa persatuan yang jauh lebih indah karena itulah hakikat Indonesia.

Keberagaman sebagai Kekuatan, Bukan Perpecahan

Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Xs Budi S Tanuwibowo, menilai doa lintas agama ini membuktikan bahwa Indonesia mampu mengelola keberagaman secara damai. Perbedaan, menurutnya, bukan alat perseteruan melainkan kekuatan yang menyatukan seluruh elemen bangsa.

"Bekerja samanya banyak agama dalam satu kebersamaan tentu menegaskan sila pertama. Tentu kemudian sila kemanusiaan bahwa di atas segala perbedaan, kemanusiaan kita satu," tuturnya.

Legacy Para Pendiri Bangsa yang Wajib Dijaga

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt Jacklevyn Frits Manuputty, mengingatkan bahwa perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari doa seluruh umat beragama. Nilai kebersamaan yang ditaruh para pendiri bangsa menjadi warisan yang harus terus dipelihara.

"Tidak melihat apapun, latar belakang suku, agama tapi berdiri bersama-sama dan saya kira itu legacy yang sangat luar biasa yang harus kita pelihara dan kita jaga bagi keutuhan Indonesia ke depan," sebutnya.

Menag: Indonesia Lukisan Paling Indah yang Harus Dirawat

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa zikir dan doa kebangsaan merupakan bentuk rasa syukur atas berbagai capaian bangsa. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

"Saya kira memang sangat tepat kita melakukan doa dan syukur semua kebangsaan kita yang tetap minimum dipertahankan dengan kondisi yang kita capai selama ini," terangnya.

Menurut Nasaruddin, Indonesia merupakan 'lukisan yang paling indah' yang harus dipelihara bersama. Ia berharap semangat persatuan terus dijaga agar cita-cita kemerdekaan dapat terwujud dan Indonesia menjadi episentrum peradaban dunia masa depan.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: linkpapua.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks