PAPUA — Camden International Film Festival (CIFF) kembali digelar pada 17–20 September di kawasan pesisir Maine, Amerika Serikat. Ajang tahunan yang diselenggarakan Points North Institute ini menyiapkan 37 film yang menjalani premiere dunia, Amerika Utara, maupun AS, menjadikannya salah satu platform film nonfiksi paling berpengaruh di dunia.
Deretan sineas dokumenter kelas dunia siap memenuhi layar festival. Nama-nama seperti Alex Gibney, Barbara Kopple, Jimmy Chin, dan Laura Poitras masuk dalam daftar program utama tahun ini.
Jajaran Film Paling Dinanti di CIFF 2025
Salah satu sorotan utama adalah Musk, dokumenter terbaru Alex Gibney yang mengupas perjalanan orang terkaya di dunia dan pergeseran politiknya ke arah kanan. Gibney sendiri sudah mengoleksi satu piala Oscar sepanjang kariernya.
Dua kali pemenang Oscar Barbara Kopple juga hadir lewat Union Town, film yang menyoroti gerakan serikat pekerja di New York City. Sementara itu, pasangan Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin—yang sukses lewat Free Solo—kembali dengan film bertema pendakian berjudul Everest: The Other Side.
Laura Poitras, pemenang Oscar untuk Citizenfour, akan memutar film pendek They're Here yang disutradarai bersama Rachel Lauren Mueller. Joshua Oppenheimer, dua kali nominasi Oscar, turut ambil bagian dengan The Revolution Against Death.
Premiere Dunia dan Film dari Berbagai Negara
Sejumlah karya baru akan menjalani premiere dunia di Camden. Sierra Pettingill membuka Argonauts at the End of History, sementara Hubert Taylor dan Cyrus Moussavi mempersembahkan Windows of Time. Nicole Costa tampil dengan No Money No Honey, dan Grace Harper Brighouse membawa Dependence—film personal tentang rekonsiliasi dengan ayahnya setelah bertahun-tahun terasing akibat kecanduan OxyContin.
Dua film yang sebelumnya tayang perdana di Sundance, Once Upon a Time in Harlem dan To Hold a Mountain, juga masuk dalam daftar putar CIFF. Keduanya disebut-sebut sebagai kandidat kuat nominasi Oscar.
Festival ini juga menegaskan wajah internasionalnya dengan film-film dari Palestina, Aljazair, Afrika Selatan, China, Vietnam, Jepang, Montenegro, Spanyol, Argentina, Chili, Meksiko, hingga Amerika Serikat.
Kata Kurator: Waktu Sebagai Alat Bercerita
Direktur Artistik CIFF Sean Flynn menekankan pendekatan para sineas dalam program tahun ini. Menurutnya, para pembuat film menghabiskan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk menyelesaikan karya mereka.
"Ketika rasanya segala sesuatu terekam dan tidak ada yang diingat, para pembuat film di sini melihat lebih dekat dan bertahan lebih lama," ujar Flynn dalam pernyataan resmi yang dikutip festival.
Kurator senior Zaina Bseiso menambahkan bahwa manipulasi waktu menjadi kekuatan utama program tahun ini. "Waktu bergerak berbeda dalam program ini—memuai, memadat, atau berhenti sejenak untuk memperlihatkan apa yang biasanya tak terlihat," katanya.
Penghargaan dan Sponsor Pendukung
CIFF tahun ini kembali menghadirkan dua kompetisi juri utama: Harrell Award dan Cinematic Vision. Ada pula Fowlie Audience Award yang dinamai dari pendiri CIFF, Ben Fowlie, dengan hadiah uang tunai 10.000 dolar AS untuk film dengan penilaian audiens tertinggi.
Direktur Eksekutif Points North Institute Elise McCave mengakui kondisi industri dokumenter independen yang kian sulit. "Pendanaan menyusut, distribusi makin sempit, dan pembuat film diminta mempertanggungjawabkan karya yang butuh bertahun-tahun untuk diselesaikan," ujarnya. "Program 2026 kami membuktikan mereka tetap melakukannya."
YETI, RandomGood Foundation, deNovo Initiative, dan LEF Foundation kembali menjadi sponsor utama. John D. dan Catherine T. MacArthur Foundation serta Maine Office of Tourism turut mendukung penyelenggaraan festival yang berlangsung di Camden dan Rockport, Maine ini.