PAPUA — Banjir bandang yang menerjang wilayah utara Nepal pada 26 Agustus 2026 meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar kerusakan infrastruktur. Industri pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi negara itu ikut terpukul—sekitar 20 persen reservasi hotel untuk musim puncak September-November dibatalkan hanya dalam sepekan setelah bencana. Padahal, tiga bulan tersebut adalah periode emas yang menyumbang hampir 40 persen dari total kunjungan wisatawan tahunan.
Mandip Giri, Managing Director Dom Himalaya Hotel di Kathmandu, mengungkapkan tingkat pemesanan untuk periode tersebut sebelumnya telah menembus lebih dari 90 persen. Pembatalan terjadi terutama pada pemesanan daring, didorong pemberitaan masif tentang jalan terputus, jembatan runtuh, dan korban yang ditemukan di sungai.
Sebagian Besar Destinasi Wisata Nepal Masih Terbuka
Kekhawatiran pelancong memang beralasan, namun gambaran bahwa seluruh Nepal berada dalam kondisi darurat tidak sepenuhnya akurat. Pemerintah melalui kampanye #NepalCalling menegaskan bahwa Kathmandu, Pokhara, Chitwan, Lumbini, Janakpur, kawasan Annapurna dan Everest, serta Bardiya masih beroperasi seperti biasa.
Menteri Pariwisata Nepal, Khadak Raj Paudel, mengajak wisatawan kembali menikmati jalur pegunungan dan trekking. Ia menekankan bahwa kunjungan selama masa pemulihan dapat membantu menggerakkan perekonomian masyarakat terdampak secara langsung.
Pengecualian berlaku di Rasuwa, wilayah yang mengalami dampak paling parah. Trekking Agencies’ Association of Nepal mengimbau wisatawan menghindari Langtang, termasuk Langtang Valley Trek, Gosainkunda, Helambu Circuit, dan Tamang Heritage Trail yang ditutup atau dibatasi sementara.
Mengapa Pariwisata Nepal Begitu Krusial?
Sektor pariwisata menyumbang sekitar 6,7 persen terhadap produk domestik bruto Nepal, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lebih dari satu juta lapangan pekerjaan—dari hotel, pemandu wisata, porter, restoran, maskapai, hingga penyedia transportasi lokal—bergantung pada aliran wisatawan yang datang setiap tahun.
Bencana terbaru ini menjadi tantangan keempat dalam waktu singkat. Sebelumnya, industri pariwisata Nepal baru pulih dari pandemi COVID-19, menghadapi gejolak politik pada September 2025, dan ketegangan di Asia Barat tahun ini. Parlemen Nepal kini mendesak pemerintah menyusun strategi pemulihan kepercayaan wisatawan internasional sembari melanjutkan pencarian dan penyelamatan korban.
Insentif Konkret Menanti Wisatawan
Kampanye komunikasi saja tidak cukup. Pelaku industri mendorong pemerintah menghadirkan insentif nyata untuk menarik kembali wisatawan mancanegara. Sejumlah opsi yang mengemuka meliputi pembebasan visa, potongan harga hotel, kemudahan perjalanan, hingga diskon tiket pesawat jika diperlukan.
Nepal Tourism Board bersama Kementerian Pariwisata memperkuat kampanye #NepalCalling melalui platform digital dan infografis. Tujuannya memberi gambaran jelas mengenai wilayah terdampak versus destinasi yang tetap beroperasi, sehingga calon pelancong dapat membuat keputusan berdasarkan informasi akurat.
Dalam jangka panjang, pemerintah melihat peluang baru bagi Rasuwa dengan mengembangkan kawasan tersebut sebagai climate heritage. Gagasan ini mengangkat kerentanan Himalaya ke panggung global sekaligus membuka perspektif baru mengenai kawasan yang terdampak bencana.
Bagi wisatawan yang telah merencanakan perjalanan ke Nepal pada musim gugur ini, destinasi utama masih menanti. Langit cerah setelah musim hujan, jalur trekking yang kembali ramai, dan pemandangan Himalaya yang megah tetap menjadi daya tarik utama. Informasi terkini mengenai kondisi lapangan dapat dikonfirmasi melalui Nepal Tourism Board sebelum keberangkatan.