Pencarian

Rupiah Diprediksi Lebih Konstruktif Meski Minyak Tembus US$106 per Barel

Selasa, 15 September 2026 • 08:52:01 WIB
Rupiah Diprediksi Lebih Konstruktif Meski Minyak Tembus US$106 per Barel
Rupiah di pasar NDF diperdagangkan di kisaran Rp17.717 per dolar AS.

PAPUA — Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.717/US$. Posisi itu belum banyak berubah dibandingkan sesi sebelumnya, mencerminkan pasar luar negeri masih menahan diri di tengah mahalnya harga minyak.

Tekanan harga minyak dipicu gangguan pasokan akibat kerusakan sejumlah infrastruktur pengiriman, termasuk pipa utama di Arab Saudi. Harga minyak yang melampaui US$100 per barel menjadi beban utama bagi mata uang negara importir, termasuk Indonesia.

Pergantian Nakhoda di Kemenkeu Disambut Pasar

Pergantian Menteri Keuangan menjadi faktor yang cukup disambut baik pelaku pasar. Sinyal ini dinilai mengurangi ketidakpastian arah kebijakan fiskal dalam beberapa bulan ke depan.

Respons positif tersebut belum sepenuhnya menetralkan tekanan eksternal. Rupiah masih berada di bawah bayang-bayang penguatan dolar Amerika Serikat yang didorong lonjakan yield obligasi pemerintah AS.

Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%

Yield US Treasury tenor 10 tahun menembus level 5% untuk kali pertama sejak 2023. Pemicunya adalah kekhawatiran inflasi serta kebutuhan pembiayaan pemerintah dan korporasi yang terus membengkak.

Lonjakan yield tersebut membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik. Imbal hasil yang lebih tinggi menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Mata Uang Asia Mayoritas Melemah

Pergerakan mata uang Asia beragam, meski mayoritas berada di zona merah. Yen Jepang memimpin pelemahan, diikuti dolar Taiwan, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura yang lebih terbatas.

Baht Thailand justru menguat, disusul peso Filipina. Kedua mata uang itu menjadi pengecualian di tengah dominasi tekanan dolar global.

  • Yen Jepang — pelemahan terdalam di kawasan Asia
  • Dolar Taiwan, won Korea Selatan, ringgit Malaysia — tertekan, dengan pelemahan lebih terbatas
  • Dolar Singapura — ikut tertekan meski relatif tertahan
  • Baht Thailand — menguat, disusul peso Filipina

Faktor yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar

Dua variabel utama menentukan arah rupiah dalam jangka pendek. Pertama, perkembangan harga minyak global yang bergantung pada kondisi pasokan dari Timur Tengah. Kedua, arah yield US Treasury yang masih berpotensi naik jika data inflasi AS kembali mengejutkan.

Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur dolar, pelemahan rupiah berpotensi menambah biaya impor bahan baku. Eksportir justru mendapat momentum untuk mengoptimalkan penerimaan valas di level kurs saat ini. Investasi mengandung risiko.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks