PAPUA — Polemik film dokumenter Pesta Babi mendapat respons keras dari lintas elemen masyarakat Papua. Tokoh perempuan adat Papua, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, mengaku kecewa karena dirinya tidak diberi tahu bahwa aktivitas yang diikutinya akan dijadikan bagian dari film dengan narasi tertentu.
“Saya kecewa karena nama dan wajah saya dipakai tanpa penjelasan yang jelas,” ujarnya.
Mama Sinta menegaskan, kebutuhan utama masyarakat Papua saat ini bukanlah narasi konflik, melainkan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan yang lebih baik. “Masyarakat Papua ingin hidup damai dan sejahtera,” katanya.
Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, ikut angkat bicara. Ia meminta publik untuk bersikap kritis terhadap isi film tersebut. Menurutnya, gambaran tentang Papua tidak bisa direduksi hanya pada sisi konflik semata.
“Papua tidak hanya bicara soal konflik, tetapi juga tentang persaudaraan, pembangunan, dan harapan masyarakat untuk maju,” tuturnya.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, menegaskan bahwa pembangunan di Papua dilakukan dengan pendekatan komprehensif. Bukan melalui pendekatan keamanan semata, melainkan kesejahteraan, dialog, dan penghormatan terhadap budaya lokal.
“Papua harus dibangun dengan pendekatan komprehensif yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah, kata Djamari, terus mempercepat pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, hingga fasilitas kesehatan. Program ketahanan pangan juga digencarkan untuk membuka keterisolasian wilayah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia menilai Papua memiliki potensi besar sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru nasional.
Tokoh pemuda Papua, Paulinus Ohee, mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat memecah belah. Menurutnya, Papua saat ini membutuhkan stabilitas, persatuan, dan optimisme.
“Tanpa kondisi yang stabil, pembangunan tidak akan berjalan maksimal dan manfaatnya tidak akan dirasakan langsung oleh masyarakat asli Papua,” ujarnya.
Berbagai pihak menilai masa depan Papua harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, dan generasi muda. Papua dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi wilayah yang maju, aman, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.