PAPUA — Tekanan terhadap rupiah datang dari eksternal, tepatnya dari data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dirilis kemarin. Inflasi inti PCE menunjukkan kenaikan signifikan, memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga acuan.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman Leong, Analis Mata Uang DOO Financial Futures, kepada CNNIndonesia.com.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan yang bervariasi di kawasan Asia. Beberapa mata uang regional justru berhasil menguat terhadap dolar AS pada pagi hari ini.
Mata uang Asia yang menguat:
Sementara itu, mata uang Asia yang ikut terdepresiasi cukup dalam adalah won Korea Selatan yang turun 0,38 persen, disusul dolar Singapura melemah 0,05 persen, yen Jepang turun 0,03 persen, dan yuan China terkoreksi tipis 0,01 persen.
Di kelompok mata uang utama negara maju, hampir semuanya melemah terhadap greenback. Dolar Australia menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi 0,29 persen, diikuti euro yang turun 0,10 persen. Poundsterling Inggris dan franc Swiss juga tak luput dari tekanan.
Satu-satunya mata uang yang mampu menguat adalah dolar Kanada, meski hanya dengan kenaikan tipis 0,03 persen.
Lukman Leong memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan sepanjang hari ini. Rentang pergerakan diprediksi berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Investor disarankan untuk mencermati pergerakan dolar AS dan data tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan depan sebagai indikasi arah kebijakan The Fed selanjutnya. Investasi mengandung risiko.