Pelindo Ajak SPIL, Tanto Intim Line, dan Meratus Line Bangun Jaringan Logistik Terintegrasi demi Tekan Biaya Nasional

Penulis: Ragil  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:39:31 WIB
Pelindo menggelar diskusi strategis bersama SPIL, Tanto Intim Line, dan Meratus Line di Kantor Pelindo Regional 4, Makassar.

PAPUA — Pertemuan bertajuk Strategic Business Discussion itu berlangsung di Kantor Pelindo Regional 4, Makassar. Pelindo menjadikan forum ini sebagai ruang dialog untuk memastikan program transformasi jaringan logistiknya tidak berjalan sendiri, melainkan dibangun bersama para pengguna jasa.

Hadir dalam diskusi tersebut Direktur Komersial Pelindo Farid Padang, Executive Director 4 Pelindo Regional 4 Abdul Azis, serta perwakilan dari PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), PT Tanto Intim Line, PT Meratus Line, dan SITC.

PINP: Menjawab Masalah Muatan Kosong dan Jadwal Kapal yang Tidak Pasti

Program PINP yang ditargetkan berjalan tahun ini dirancang untuk mengatasi persoalan klasik logistik Indonesia: ketimpangan arus muatan atau imbalance cargo. Selama ini, banyak kapal berangkat dari Pulau Jawa dalam kondisi penuh, tetapi harus kembali dengan muatan minim—yang pada akhirnya membuat tarif angkut membengkak.

Melalui sistem jaringan pelayaran terintegrasi, Pelindo berharap muatan bisa dikonsolidasikan, jadwal kapal menjadi lebih pasti, dan koefisien muat meningkat. Farid Padang menegaskan, transformasi ini bukan sekadar membangun rute pelayaran baru.

“Melalui forum seperti ini kami ingin memastikan setiap kebijakan dan program yang dijalankan Pelindo dibangun bersama para pengguna jasa. Kolaborasi merupakan kunci untuk menciptakan jaringan logistik yang lebih andal, meningkatkan kepastian jadwal pelayaran, sekaligus menekan biaya logistik nasional,” ujar Farid dalam keterangan resmi yang diterima Pluz.id.

Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat konektivitas antarpelabuhan dan meningkatkan utilisasi terminal di berbagai wilayah. Pelindo juga menyiapkan skema insentif bagi perusahaan pelayaran yang berhasil menaikkan koefisien muatnya.

Indonesia Timur: Simpul Krusial yang Disiapkan Jadi Mitra Strategis

Pelindo Regional 4 yang membawahi pelabuhan-pelabuhan di kawasan timur Indonesia menempati posisi penting dalam peta PINP. Abdul Azis menyebut wilayahnya sebagai salah satu simpul utama jaringan logistik nasional yang siap mendukung penuh inisiatif transformasi ini.

“Kami ingin memastikan seluruh perubahan yang dilakukan mampu memberikan kemudahan operasional, meningkatkan efisiensi, serta menciptakan nilai tambah bagi pelanggan,” kata Abdul Azis.

Ia menambahkan, masukan dari perusahaan pelayaran menjadi bahan penting untuk menyempurnakan kebijakan agar benar-benar menjawab kebutuhan industri di lapangan.

Respons Pelayaran: Ruang Komunikasi yang Selama Ini Ditunggu

Para pengguna jasa menyambut baik inisiatif ini. Ngurah Gede Santha Dharma, Branch Manager Makassar PT Meratus Line, menilai forum diskusi seperti ini membuka ruang komunikasi yang lebih intensif antara operator pelabuhan dan pelaku pelayaran.

“Forum seperti ini sangat positif karena memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk menyampaikan masukan secara langsung sekaligus memahami arah transformasi yang sedang dijalankan Pelindo. Kami berharap sinergi yang telah terbangun dapat terus diperkuat sehingga bersama-sama mampu meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung kelancaran distribusi logistik nasional,” ujarnya.

Rangkaian roadshow dan diskusi dengan pemangku kepentingan akan terus digelar di berbagai wilayah sebagai bagian dari tahapan implementasi PINP. Keberhasilan program ini, menurut Farid, bergantung pada komitmen bersama antara Pelindo, perusahaan pelayaran, dan pemilik barang.

Jika berjalan sesuai rencana, transformasi ini diharapkan menghadirkan manfaat berlapis: kepastian jadwal kapal, terminal yang lebih padat terpakai, biaya logistik yang turun, dan daya saing pelayaran nasional yang meningkat.

Reporter: Ragil
Sumber: pluz.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top