JAYAPURA — Dance Mabel menilai 63 tahun bukan waktu singkat bagi GJRP untuk berdiri, bertumbuh, dan bertahan di atas Tanah Papua yang menyimpan sejarah panjang penderitaan sekaligus harapan masyarakat. Dalam momentum HUT ke-63, ia meminta gereja menjadikan perjalanan itu sebagai bahan refleksi, bukan sekadar perayaan seremonial.
Menurut Dance, GJRP telah menjadi saksi sejarah penderitaan dan kebangkitan umat Tuhan di Tanah Papua. Karena itu, ia menegaskan komitmen gereja dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan pembebasan manusia harus terus diperkuat.
Dance menegaskan Injil tidak hanya berbicara soal keselamatan sorgawi, tetapi juga pembebasan manusia secara utuh dari penindasan, kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan. Ia merujuk Lukas 4:18 tentang panggilan menyampaikan kabar baik kepada orang miskin dan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.
Pesan itu, katanya, harus menjadi dasar pelayanan gereja di tengah realitas kehidupan masyarakat Papua. "Di Tanah Papua, Injil harus berdiri di pihak orang yang ditindas, yang miskin, yang dibungkam, dan yang kehilangan tanahnya. Jika Injil diam melihat ketidakadilan, maka Injil kehilangan maknanya," tegasnya.
Dance juga mengingatkan setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah sebagaimana tertulis dalam Kejadian 1:27. Karena itu, martabat setiap manusia wajib dihormati dan dilindungi, termasuk manusia Papua.
"Manusia Papua tidak diciptakan untuk dijajah, ditembak, ditangkap, dan dimiskinkan di atas tanahnya sendiri yang kaya," ungkapnya.
Penghormatan terhadap martabat manusia, lanjut Dance, harus diwujudkan lewat perlindungan hak masyarakat. Mulai dari hak hidup aman, mempertahankan tanah adat, menjaga hutan, melestarikan bahasa, hingga merawat identitas budaya.
Ia berharap upaya menjaga tanah, hutan, bahasa, dan identitas Papua tidak dipandang sekadar tanggung jawab sosial. Bagi Dance, itu bagian dari tanggung jawab iman terhadap Sang Pencipta.
Dance mengingatkan GJRP agar tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan kemegahan gedung gereja. Ia meminta pembangunan manusia serta pelayanan kepada masyarakat miskin dan tertindas diprioritaskan.
"GJRP dipanggil untuk tidak hanya membangun gedung gereja yang megah, tetapi juga membangun manusia. Rakyat masih hidup dalam kemiskinan, sementara ada pihak-pihak yang berlomba membangun kemegahan," kata Dance.
Ia menilai gereja harus hadir sebagai suara bagi mereka yang tidak punya ruang menyampaikan penderitaan. Gereja juga diminta menjadi tempat perlindungan bagi korban kekerasan di seluruh Tanah Papua.
"Gereja harus menjadi suara bagi yang tidak bersuara. Gereja juga harus berani mengatakan kebenaran, sebab kebenaran tidak boleh ditutup," tegasnya.
Dalam momentum HUT ke-63, Dance meminta GJRP menjaga integritas pelayanan. Ia secara khusus mengingatkan agar gereja tidak terjebak politik uang maupun kepentingan proyek yang dapat mengaburkan panggilan gereja.
Ia berharap GJRP terus setia menjalankan pelayanan yang berorientasi pada pembebasan manusia, penghormatan terhadap martabat, serta perjuangan mewujudkan keadilan bagi masyarakat Papua.
"Selamat ulang tahun GJRP. Tetaplah rendah hati, jangan terjebak dalam politik uang dan proyek. Tetaplah setia kepada pekerjaan Injil, yaitu membebaskan manusia," pesannya.
Dance menutup pesannya dengan harapan agar Yesus Kristus, Sang Gembala Agung, senantiasa memberkati seluruh pelayanan GJRP. Ia ingin gereja terus menjadi bagian dari perjuangan mewujudkan kebenaran dan keadilan di Tanah Papua.
"Kebenaran Injil adalah kebenaran yang memerdekakan," pungkasnya.