JAYAPURA — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan setempat mencatat sektor pertanian sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi daerah pada tiga bulan pertama tahun 2026. Angka produksi padi yang mencapai 545,96 ton menjadi indikator utama pergeseran ini.
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Papua, Andry, di Jayapura, Selasa, mengatakan peningkatan produksi tersebut menunjukkan sektor pertanian Papua mulai bergerak menuju kegiatan ekonomi yang lebih produktif.
Transformasi dari Pertanian Subsisten ke Produktif
Andry menjelaskan bahwa capaian ini berbeda dengan pola pertanian subsisten yang selama ini banyak dijalankan masyarakat. “Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian tidak lagi bersifat subsisten sehingga sudah mulai bertransformasi menjadi sektor produktif untuk menopang pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Transformasi ini menjadi angin segar bagi perekonomian daerah yang selama ini kerap bergantung pada sektor lain. Dengan meningkatnya produktivitas, petani di Papua kini tidak hanya bercocok tanam untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga untuk memasok pasar yang lebih luas.
Konsumsi Rumah Tangga dan Ekspor Jadi Penopang
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi faktor dominan yang menopang pergerakan ekonomi Papua. “Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat juga menjadi penopang penting ekonomi Papua. Kondisi tersebut didukung oleh inflasi yang terkendali sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Andry.
Selain itu, aktivitas perdagangan luar daerah juga menunjukkan perkembangan positif. Nilai ekspor Papua mengalami peningkatan yang disertai surplus neraca perdagangan. Hal ini mencerminkan semakin aktifnya kegiatan ekonomi dan distribusi barang dari dan ke luar Papua.
Langkah Pemprov: Infrastruktur, Pendampingan, dan Akses Pasar
Pemprov Papua tidak tinggal diam. Andry menambahkan bahwa pemerintah akan terus mendorong peningkatan produktivitas komoditas pertanian melalui penguatan infrastruktur, pendampingan petani, serta perluasan akses pasar.
“Kami akan terus mendorong peningkatan produktivitas komoditas pertanian, melalui penguatan infrastruktur, pendampingan petani, serta perluasan akses pasar agar kontribusi sektor ini semakin optimal terhadap pertumbuhan ekonomi Papua,” ujarnya.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan. Dengan infrastruktur yang memadai, hasil panen petani bisa segera didistribusikan ke pusat-pusat perdagangan tanpa banyak terbuang. Pendampingan teknis juga diperlukan agar petani bisa mengadopsi metode bercocok tanam yang lebih efisien.
Harapan ke Depan untuk Ekonomi Papua
Pertumbuhan sektor pertanian ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian Papua. Mulai dari terbukanya lapangan kerja baru di sektor hilir, hingga meningkatnya pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor perdagangan hasil bumi.
Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin pertanian akan menjadi tulang punggung ekonomi Papua di masa depan, menggantikan ketergantungan pada sektor ekstraktif yang selama ini mendominasi.