JAYAPURA — Harga beras kualitas medium I di pasar tradisional Papua hari ini naik Rp100 dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp19.050 per kilogram. Data dari dashboard PIHPS Bank Indonesia menunjukkan harga ini masih lebih rendah 0,26 persen jika dibandingkan dengan sebulan lalu yang sempat berada di level Rp19.100 per kilogram.
Dalam sepekan terakhir, harga beras medium I tercatat naik Rp100 dari posisi Rp18.950 per kilogram. Namun secara tiga bulanan, harga masih turun 0,52 persen dari level Rp19.150 per kilogram pada 90 hari sebelumnya. Rekor historis menunjukkan kenaikan tertinggi komoditas ini pernah mencapai 38,46 persen pada April 2023.
Bawang Merah dan Telur Ayam Turun, Cabai Masih Mahal
Dari total 30 komoditas sembako yang dipantau PIHBS di Papua, sebanyak sembilan komoditas tercatat turun harga. Bawang merah ukuran sedang misalnya, turun tipis 0,07 persen menjadi Rp71.450 per kilogram. Telur ayam ras segar juga turun signifikan 3,37 persen ke harga Rp40.200 per kilogram.
Bawang putih ukuran sedang ikut melemah 1,75 persen menjadi Rp56.000 per kilogram. Sementara itu, harga beras kualitas bawah II turun 0,85 persen ke Rp17.600 per kilogram. Beras kualitas super II juga turun 0,74 persen menjadi Rp20.150 per kilogram.
Cabai Merah Keriting Melonjak 57 Persen dalam Sebulan
Di sisi lain, kenaikan harga justru terjadi pada komoditas cabai. Cabai merah keriting melonjak paling tajam, naik 57,32 persen dalam sebulan terakhir menjadi Rp94.000 per kilogram. Cabai merah besar juga naik 27,4 persen ke Rp100.200 per kilogram, sementara cabai rawit merah menembus Rp101.500 per kilogram setelah naik 14,82 persen.
Minyak goreng curah mencatat kenaikan 3 persen menjadi Rp22.350 per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan bermerk 2 naik 2,33 persen ke Rp26.300 per kilogram. Daging sapi kualitas 1 dan gula pasir premium tercatat stabil tanpa perubahan harga dalam sebulan terakhir.
Data Acuan untuk Kebijakan Pangan Daerah
Data harga ini bersumber dari PIHPS Bank Indonesia yang diperbarui setiap hari kerja. Pemerintah daerah Papua biasanya menggunakan data ini sebagai acuan untuk menentukan kebijakan intervensi pasar, termasuk operasi pasar dan distribusi bahan pokok ke daerah terpencil. Fluktuasi harga cabai dan bawang menjadi perhatian khusus karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat di wilayah dengan ongkos logistik tinggi seperti Papua.