JAYAPURA — Perusahaan Umum (Perum) Bulog Kantor Wilayah Papua dan Papua Barat terus mengoptimalkan penyerapan jagung petani sebagai bagian dari program swasembada pangan nasional. Hingga semester pertama 2026, total serapan mencapai 398.077 kilogram (kg).
Pimpinan Perum Bulog Kanwil Papua dan Papua Barat Ahmad Mustari di Jayapura, Kamis, mengatakan dari jumlah tersebut, sebanyak 245 kg diserap dari wilayah kerja Jayapura, khususnya Kabupaten Keerom. Wilayah itu menjadi pemasok utama jagung di Papua.
Kendala Kadar Air dan Persaingan Harga
Mustari mengakui masih ada sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya kadar air jagung yang belum memenuhi standar maksimal 14 persen. Hal ini penting untuk menjaga kualitas selama penyimpanan di gudang.
"Memang terdapat kendala pada panen jagung tersebut di mana kadar air yang memenuhi standar maksimal 14 persen. Oleh sebab itu masih perlu diperhatikan agar kualitas tetap terjaga selama penyimpanan di gudang," ujar dia.
Selain itu, sebagian petani masih menjual hasil panennya ke pihak lain dengan harga lebih tinggi. Kondisi ini turut mempengaruhi volume serapan Bulog. Meski begitu, pihaknya tetap berupaya mengoptimalkan penyerapan sesuai ketentuan yang berlaku.
Gudang Khusus Disiapkan, Kapasitas 500 Ton
Untuk menampung hasil panen, Bulog telah menyewa gudang berkapasitas 500 ton yang khusus digunakan untuk menyimpan jagung. Gudang ini terpisah dari tempat penyimpanan beras karena perbedaan karakteristik komoditas.
"Sembari menyerap hasil jagung kami juga telah menyediakan penyediaan gudang khusus dilakukan karena jagung tidak dapat disimpan bersama beras akibat perbedaan karakteristik komoditas tersebut," kata Mustari.
Pihak Bulog masih berupaya mencari tambahan gudang dengan kapasitas lebih besar. Langkah ini diambil seiring meningkatnya serapan hasil panen petani di Papua dan Papua Barat.
Koordinasi dengan Petani dan Pemangku Kepentingan
Mustari menambahkan, upaya penyerapan jagung dilakukan melalui koordinasi intensif dengan petani dan pemangku kepentingan di daerah sentra produksi. Tujuannya agar hasil panen petani tidak mengalami kendala pemasaran.
"Sedangkan untuk daerah lainnya masih rendah meski begitu kami tetap melakukan pemantauan dan penyerapan di lapangan agar hasil panen petani tidak mengalami kendala pemasaran," katanya.