PAPUA — Kementerian PU tidak hanya mengandalkan sumur bor. Sebanyak 240 bendungan dengan total kapasitas tampung mencapai 7,89 miliar meter kubik telah disiagakan. Ditambah lagi, 601 situ dan danau dengan volume 135,59 miliar meter kubik, serta lebih dari 1.000 tampungan air baku, ikut menopang kebutuhan air masyarakat dan irigasi.
Ratusan Pompa dan Mesin Bor Disiagakan
Untuk mempercepat respons di lapangan, Kementerian PU menyiapkan peralatan pendukung. Tercatat, 125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, dan 49 mesin bor siap dikerahkan ke daerah terdampak kapan saja.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa infrastruktur air memiliki peran strategis. "Kehadiran infrastruktur ini sangat penting untuk mendukung ketersediaan air irigasi pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan musim kemarau atau perubahan iklim," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Edukasi Petani dan Teknologi Irigasi Hemat Air
Selain membangun infrastruktur, pemerintah juga menginventarisasi wilayah rawan kekeringan dan mengedukasi masyarakat. Salah satu program yang didorong adalah penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA). Teknologi ini dinilai efektif mengurangi konsumsi air di sektor pertanian tanpa menurunkan hasil panen.
Kementerian PU juga mengoptimalkan pola operasi bendungan dan jaringan irigasi agar distribusi air berjalan efisien. Percepatan pembangunan bendungan, jaringan irigasi air tanah (JIAT), dan sumur bor terus dilakukan untuk memperkuat ketahanan air dalam jangka panjang.
Langkah ini menjadi krusial mengingat sebagian besar wilayah Indonesia bergantung pada sektor pertanian. Dengan kesiapan infrastruktur dan peralatan, pemerintah berharap dampak kekeringan bisa ditekan seminimal mungkin, terutama di daerah yang selama ini langganan krisis air bersih.