PAPUA — Kabar ini berawal dari laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang menyebut Tesla tengah mempertimbangkan opsi spin-off untuk unit bisnisnya di China. Namun kabar tersebut langsung mendapat bantahan keras, tidak hanya dari Elon Musk selaku pimpinan Tesla, tetapi juga dari perwakilan Tesla China yang menyampaikan klarifikasi kepada media lokal The Paper bahwa informasi tersebut palsu.
Gigafactory Shanghai dan Posisi Strategis Pasar China
Pabrik Gigafactory Shanghai selama ini menjadi tulang punggung produksi Tesla. Fasilitas ini memasok kendaraan listrik untuk berbagai wilayah, mulai dari pasar Asia-Pasifik, Eropa, hingga Kanada. Selain sebagai pusat ekspor, China juga tercatat sebagai pasar terbesar kedua bagi Tesla setelah Amerika Serikat.
Dengan peran sebesar itu, wajar jika isu perubahan struktur bisnis di China langsung menjadi perhatian besar investor dan pelaku industri kendaraan listrik global. Spekulasi ini muncul di tengah narasi Elon Musk yang beberapa kali menyinggung hubungan teknologi yang semakin dekat antara Tesla dan SpaceX.
Keterkaitan Teknologi yang Memicu Spekulasi Pasar
Kedua perusahaan memang memiliki irisan di sektor artificial intelligence (AI), manufaktur canggih, robotik, dan pengembangan sistem otonom. Titik temu inilah yang kemudian memicu spekulasi mengenai kemungkinan hubungan bisnis yang lebih erat, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi soal rencana penggabungan kedua entitas.
Data dari platform prediksi Kalshi bahkan sempat mencatat peluang merger Tesla dan SpaceX sebelum Mei 2027 berada di kisaran 49%. Angka ini menunjukkan minat pasar terhadap aksi korporasi besar tersebut, meskipun sifatnya masih sekadar spekulasi.
Reaksi Investor: Saham Tesla Menguat, SpaceX Tertekan
Pasar sempat bereaksi terhadap isu ini. Saham Tesla ditutup menguat 3,53% ke level US$308,85 setelah pemberitaan tersebut muncul. Di sisi lain, saham SpaceX justru mengalami tekanan dan ditutup turun 0,31% ke level US$112,20.
Pergerakan yang berlawanan ini menunjukkan investor masih mencermati perkembangan strategi ekspansi teknologi kedua perusahaan, terutama di bidang kecerdasan buatan dan manufaktur masa depan. Terlepas dari rumor yang beredar, Tesla China tetap memegang peran besar dalam strategi produksi global perusahaan.
Dengan adanya bantahan dari Elon Musk dan Tesla China, kabar penjualan unit bisnis China saat ini masih sebatas laporan yang belum terkonfirmasi. Sementara itu, spekulasi mengenai hubungan lebih dekat antara Tesla dan SpaceX dipastikan akan terus menjadi perhatian pasar dalam beberapa waktu ke depan.