Sektor Tambang RI Terkontraksi 2,14% di Kuartal I 2026, Baru Pulih Akhir Tahun

Penulis: Yasir  •  Minggu, 07 Juni 2026 | 15:28:31 WIB
Sektor tambang Indonesia kontraksi 2,14 persen pada kuartal I 2026 akibat tekanan biaya dan pasar global.

PAPUA — Kuartal I 2026 menjadi pukulan telak. Sektor pertambangan tercatat minus 2,14 persen secara tahunan, menjadikannya satu-satunya lapangan usaha utama yang tak tumbuh di tengah ekonomi nasional yang masih ekspansif 5,61 persen. Tenaga Ahli Profesional Kekayaan Alam Lemhanas, Edi Permadi, menyebut tekanan ini bersifat struktural, bukan sekadar siklus komoditas biasa.

Dua Sumber Tekanan: Royalti Progresif dan Oversupply Global

Dari dalam negeri, pemerintah menaikkan royalti lewat skema progresif sejak 2025. Khusus nikel, tarif royalti berada di kisaran 14–19 persen. Kebijakan ini diperparah oleh implementasi Harga Patokan Mineral (HPM) terbaru pada April 2026 yang menaikkan harga dasar transaksi bijih, terutama limonit.

Dari luar negeri, pasar komoditas global masih dibayangi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Nikel menjadi yang paling tertekan akibat oversupply. Edi mengingatkan, risiko kejadian ekstrem—seperti eskalasi konflik di Selat Hormuz—bisa memperburuk kondisi biaya secara drastis.

Biaya Produksi Mencekik, Margin Industri Nyaris Minus

Tekanan paling nyata terasa di industri HPAL (High Pressure Acid Leach), tulang punggung hilirisasi nikel. Harga sulfur melonjak dari US$275 per ton menjadi US$960–1.300 per ton. Asam sulfat yang tadinya hanya 35–40 persen dari total biaya produksi, kini membengkak menjadi 65–70 persen.

Akibatnya, biaya produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) nyaris setara dengan harga nikel di London Metal Exchange (LME). Margin industri menjadi sangat tipis, bahkan minus. Edi menambahkan, kontraksi kuartal II diperkirakan masih berlanjut di kisaran -2 persen hingga -1 persen secara tahunan.

Kuartal III Mulai Stabil, Tapi Rentan Geopolitik

Memasuki kuartal III 2026, sektor tambang diperkirakan mulai stabil di kisaran -0,5 persen hingga +0,5 persen. Pelaku industri mulai menyesuaikan struktur biaya baru lewat efisiensi dan renegosiasi kontrak antara tambang dan smelter. Namun, fase ini tetap rentan terhadap hubungan dagang AS-China sebagai konsumen utama logam industri.

Jika terjadi perlambatan ekonomi atau ketegangan dagang di China, permintaan nikel dan tembaga dari Indonesia bisa langsung terpukul. Sebaliknya, jika hubungan global membaik, stabilisasi bisa lebih kuat.

Kuartal IV: Pemulihan Terbatas, Tapi Bisa Melonjak

Proyeksi positif baru terlihat di kuartal IV 2026. Sektor pertambangan diprediksi tumbuh 0,5 persen hingga 2 persen, menandai awal pemulihan setelah setahun penuh tekanan. Stabilitas harga yang lebih baik, reformasi HPM yang menciptakan batas bawah harga, dan meredanya ketegangan geopolitik menjadi kunci.

Dalam skenario positif—misalnya gangguan pasokan global yang justru menaikkan harga komoditas—pertumbuhan bisa melampaui 3 persen. Namun, jika resesi global terjadi, pertumbuhan bisa kembali mendekati nol. Secara keseluruhan, pertumbuhan tahunan 2026 diperkirakan berada di kisaran -1,5 persen hingga +1 persen.

Investasi Jangka Panjang Butuh Kepastian Kebijakan

Edi menekankan, di tengah dinamika ini, isu paling krusial adalah kepastian investasi berkelanjutan. Sektor hilirisasi nikel berbasis HPAL membutuhkan investasi US$2,5–4 miliar per proyek. Kenaikan royalti dan HPM memang meningkatkan penerimaan negara, tapi juga meningkatkan persepsi risiko kebijakan.

“Data pasar menunjukkan bahwa wacana kebijakan saja sudah mampu memicu tekanan pada saham sektor tambang,” ujar Edi. Ia mendorong pendekatan yang menyeimbangkan penerimaan negara dan keberlanjutan investasi, termasuk fleksibilitas kebijakan fiskal yang mengikuti siklus industri serta insentif selektif untuk sektor strategis seperti HPAL.

Ia juga menyoroti pentingnya ketenangan kebijakan nasional. “Penundaan kenaikan royalti dan review HPM limonit agar mendekati harga pasar adalah langkah yang sangat tepat,” tandasnya. Tanpa itu, ekosistem baterai NMC dan kendaraan listrik Indonesia terancam mandek.

Reporter: Yasir
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top