PAPUA — Badai petir kering yang melanda wilayah timur Spanyol pada Jumat (7/8) lalu menjadi pemicu utama munculnya sejumlah titik api. Di Provinsi Castellon, api yang berkobar di dekat kota Tirig telah menghanguskan lahan seluas 684 hektare dan memaksa 900 penduduk Cati mengungsi. Sementara itu, di selatan Provinsi Huelva, kebakaran yang berlangsung sejak Kamis (6/8) membakar area seluas 8.000 hektare dan mengevakuasi 467 orang dari kota Berroccal.
Pihak berwenang Spanyol menyebut sisi utara api di Castellon masih menjadi prioritas utama pemadaman. Kawasan tersebut bergerak menuju Cati, lokasi yang menampung lebih dari 60 peternakan hewan. Meskipun kelembapan udara yang tinggi pada malam hari sempat membantu upaya pendinginan, kata "sangat mengkhawatirkan" masih melekat pada pergerakan api di wilayah itu.
Berroccal, salah satu titik evakuasi di Huelva, bukanlah daerah asing bagi bencana serupa. Pada 2004, kebakaran dahsyat di kota itu melalap sekitar 34.000 hektare lahan. Kini, warga kembali menghadapi ancaman yang sama di tengah kondisi vegetasi yang sangat kering.
"Vegetasi sangat kering, dan percikan api kecil atau tindakan ceroboh dapat memicu kebakaran hutan dengan dampak yang menghancurkan bagi masyarakat, ekosistem, dan warisan alam," ujar Menteri Transisi Ekologi Sara Aagesen kepada media setempat pekan lalu.
Badan cuaca nasional AEMET memperingatkan sebagian besar wilayah Spanyol akan menghadapi risiko kebakaran ekstrem pada Rabu (12/8), bertepatan dengan puncak gerhana matahari total. Otoritas setempat telah membatalkan sejumlah acara pengamatan dan menutup akses ke lebih dari 100 kawasan alam untuk mencegah insiden.
Lonjakan pengunjung ke area perdesaan dan pegunungan dinilai dapat memicu kebakaran baru. Puntung rokok, aktivitas pemanggangan (barbeku), hingga kemacetan lalu lintas yang menghalangi laju mobil pemadam menjadi risiko yang diantisipasi aparat.
AEMET mencatat Juli 2026 menyamai rekor Juli 2022 sebagai bulan terpanas di daratan utama Spanyol sejak pencatatan dimulai pada 1961. Suhu rata-rata mencapai 25,7 derajat Celsius, lebih tinggi 2,6 derajat Celsius dari rata-rata periode 1991-2020. Kondisi cuaca panas yang berkepanjangan ini menjadi faktor utama yang memperparah laju api di dua provinsi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, petugas pemadam kebakaran masih berjibaku menjinakkan api di kedua lokasi. Belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian materi dan ekologis dipastikan besar mengingat luas lahan yang terbakar mencapai ribuan hektare.