JAYAPURA — Kelompok Tani Suka Maju di Kampung Yatu Raharja, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom, untuk pertama kalinya menghasilkan produk olahan sendiri berupa pakan ternak. Produk ini dihasilkan setelah tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah (UM) Papua memberikan pendampingan usaha agribisnis jagung di wilayah perbatasan RI–Papua Nugini (PNG) tersebut.
Tim yang diketuai Anita Apriani beserta anggota Dani Arisandi DN, Zulrijal Bushido Gani, Sinta Nurcahya Sulistyani, dan empat mahasiswa pendamping ini fokus memanfaatkan limbah bonggol jagung pascapanen yang selama ini dibuang atau dibakar tanpa nilai guna.
Distrik Arso Barat merupakan salah satu wilayah basis pengembangan jagung di Kabupaten Keerom. Data Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua mencatat nilai Location Quotient sebesar 2,34, dengan potensi lahan pengembangan jagung di Kabupaten Keerom mencapai lebih dari 294 ribu hektare.
Penelitian Petrus A. Beding dan tim dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua yang dipublikasikan dalam Jurnal SEPA (2023) juga menyebut penerapan inovasi teknologi budidaya dapat meningkatkan produktivitas jagung dari rata-rata 3 ton per hektare menjadi 6–7 ton per hektare.
"Melalui program ini, kami ingin membuktikan bahwa potensi besar itu bisa diikuti dengan hilirisasi, sehingga jagung dan limbahnya benar-benar punya nilai jual dan manfaatnya langsung dirasakan oleh kelompok tani, khususnya yang juga berprofesi sebagai peternak," kata Anita Apriani dalam siaran pers di Jayapura.
Pendampingan berlangsung dalam tiga tahapan. Tahap pertama berupa Focus Group Discussion (FGD) pada 10 Juli 2026 untuk menyepakati jenis usaha dan kebutuhan Teknologi Tepat Guna (TTG).
Tahap kedua dilaksanakan pada 19 Juli 2026 berupa sosialisasi, pelatihan, dan serah terima empat unit TTG kepada Kelompok Tani Suka Maju: mesin hammer mill, mesin pencetak pelet pakan, alat vacuum sealer, dan timbangan digital.
Tahap ketiga adalah pendampingan finishing produk prototipe pada pekan ketiga, meliputi uji coba formula, pengemasan, hingga pelabelan sampai dihasilkan produk siap diujicobakan kepada peternak.
Produk yang dihasilkan berupa pakan ternak berbahan dasar jagung dan limbah bonggol jagung. Bahan baku digiling menjadi tepung menggunakan mesin hammer mill, dicetak menjadi pelet, lalu dikemas dengan vacuum sealer agar lebih higienis dan tahan lama.
Pakan ini diformulasikan sebagai alternatif yang lebih ekonomis bagi peternak ayam, itik, kambing, hingga ikan, karena memanfaatkan bahan baku lokal yang selama ini terbuang. Pendampingan tidak berhenti pada aspek produksi, tetapi juga mencakup penguatan manajemen usaha kelompok dan strategi pemasaran agar produk dapat meningkatkan pendapatan anggota secara berkelanjutan.