PAPUA — Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) resmi bergulir dengan angkatan pertama berjumlah 400 orang. Inisiatif yang digarap bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) ini menyaring peserta dari rasio 15:1—hanya satu dari 15 pelamar yang lolos.
Seleksi 6.000 Pelamar Hanya Menyisakan 400 Peserta
Zhirazzi Dimas Prasetyo, peserta dari PT Bank Negara Indonesia (BNI), mengungkapkan proses seleksi berlangsung sangat ketat. "Ya, saya merasa bangga menjadi salah satu peserta dari 400 total yang ada," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (25/5).
Ia menyebut pesan Presiden Prabowo yang paling membekas adalah soal mental ideologi. Bukan sekadar kemampuan teknis, program ini dirancang untuk membentuk karakter kepemimpinan dan integritas.
Kurikulum 9 Bulan: Dari Pelatihan Militer hingga Magang di Kementerian
Pendidikan P3MD terbagi dalam tiga fase. Tiga bulan pertama diisi pelatihan pembentukan karakter dan kedisiplinan—mirip seperti pendidikan dasar kepemimpinan.
Selanjutnya, peserta masuk ke Danantara Corporate University untuk pembekalan manajerial dan strategi pengambilan keputusan selama empat bulan. Tahap akhir adalah magang dua bulan di kementerian, lembaga pemerintah, dan perusahaan BUMN.
Optimisme Peserta: Target Jangka Panjang Kemandirian Bangsa
Erlin Shofiana dari PT Pupuk Indonesia mengaku antusias mengikuti program ini. "Kita harap (program ini) terus dikawal sampai dengan output yang diharapkan oleh Bapak Presiden," tuturnya.
Aizna Syachkalita, peserta dari PT Pupuk Kalimantan Timur, menekankan tujuan jangka panjang program ini. Menurutnya, P3MD adalah bagian dari strategi mempersiapkan kemandirian bangsa melalui pembangunan sumber daya manusia unggul.
Fakta Singkat Program P3MD
- Pendaftar awal: 6.000 orang, lolos seleksi: 400 peserta
- Durasi pendidikan: 9 bulan (3 fase)
- Penyelenggara: Danantara bersama Sekretariat Presiden
- Target output: kader pemimpin BUMN dengan kapasitas intelektual dan komitmen pengabdian
Program ini menjadi salah satu pilar strategi Prabowo dalam mereformasi tata kelola BUMN. Daripada merekrut petinggi perusahaan negara dari luar, pemerintah memilih menyiapkan kader internal yang sudah melalui proses pembentukan karakter dan loyalitas negara.