MANOKWARI — Pemerintah pusat menggelontorkan program revitalisasi sekolah secara besar-besaran untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur pendidikan di tanah air. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan komitmen Presiden Prabowo untuk memperbaiki seluruh sekolah dalam waktu lima tahun.
Program ini telah dimulai pada 2025 dengan target awal sebanyak 16.167 sekolah. Memasuki tahun 2026, Presiden meminta lonjakan kuota perbaikan secara signifikan menjadi 71.744 sekolah. Akumulasi sasaran dalam dua tahun pemerintahan ini mendekati angka 100 ribu sekolah.
Wilayah 3T Jadi Prioritas Utama Pembangunan Sekolah
Dalam kunjungannya ke Papua, Mendikdasmen menegaskan bahwa Indonesia Timur menjadi fokus utama pembangunan manusia. Pemerintah berupaya menghapus kesenjangan pendidikan yang selama ini terjadi di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Wilayah 3T akan mendapatkan perlakuan khusus dalam pengajuan unit sekolah baru. Langkah ini juga dipersiapkan sebagai landasan penerapan program Wajib Belajar 13 Tahun, yang mewajibkan anak-anak mengenyam pendidikan mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK).
Sekda Papua Barat Sambut Baik Kehadiran Pemerintah Pusat
Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Ali Bahan Temongmere, menyambut positif langkah pemerintah pusat di wilayahnya. Ia yakin peningkatan kualitas pendidikan adalah kunci utama membangun karakter sumber daya manusia (SDM) di Papua.
Fakta Singkat: Target Revitalisasi Sekolah 2025-2026
- Target awal pembangunan dan perbaikan pada 2025 sebanyak 16.167 satuan pendidikan.
- Penambahan target besar-besaran pada 2026 menyasar 71.744 sekolah.
- Total akumulasi sasaran perbaikan dalam dua tahun mencapai hampir 100 ribu sekolah.
Kisah Sukses SMAMCO Manokwari: Renovasi Hanya 3 Bulan
Salah satu sekolah yang menarik perhatian dalam program revitalisasi ini adalah SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari. Proses renovasi sekolah ini berlangsung sangat cepat, hanya memakan waktu tiga bulan dari target awal 10 bulan.
Sekolah ini menonjol karena tingkat inklusivitasnya yang tinggi di tengah keberagaman. Sekitar 60 hingga 70 persen siswanya adalah putra daerah asli Papua yang mayoritas beragama nonmuslim.
Mengintegrasikan Pendidikan Modern dengan Nilai Budaya Lokal
SMAMCO menjadi contoh sekolah yang mengintegrasikan pendidikan modern dengan nilai budaya lokal. Konsep ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas namun tetap menjaga jati diri.
Falsafah "Igya Ser Hanjop" yang dipegang sekolah ini berasal dari nilai masyarakat Pegunungan Arfak. Tradisi ini merupakan komitmen kuat untuk menjaga kelestarian hutan sebagai sumber utama kehidupan mereka.
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki fisik bangunan. Lebih dari itu, siswa dapat meraih cita-citanya tanpa melupakan tanggung jawab menjaga lingkungan.