JAYAPURA — Ironi terjadi di tengah meningkatnya perhatian global terhadap perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati: pengetahuan lokal masyarakat adat Papua justru semakin terpinggirkan. Sistem pendidikan formal dan pembangunan modern dinilai lebih menghargai ilmu yang lahir dari laboratorium dibandingkan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik hidup sehari-hari.
Apa Itu Etnosains dan Mengapa Dipinggirkan?
Etnosains bukan sekadar kumpulan tradisi atau kepercayaan. Ia merupakan sistem pengetahuan yang dibangun melalui pengamatan, pengalaman, dan praktik hidup selama berabad-abad. Masyarakat adat Papua, misalnya, mampu mengenali karakter tanah, memahami siklus musim, mengetahui perilaku satwa liar, serta memanfaatkan ratusan spesies tumbuhan sebagai bahan pangan dan obat-obatan.
Namun, cara pandang positivistik yang membedakan tegas antara "sains" dan "budaya" membuat pengetahuan semacam ini kerap ditempatkan sebagai folklore, mitos, atau sekadar kearifan lokal. Ilmu pengetahuan diidentikkan dengan laboratorium, publikasi ilmiah, dan teknologi modern.
Generasi Muda Lebih Kenal Teori dari Buku
Akibatnya, generasi muda Papua lebih mengenal teori ekologi dari buku pelajaran dibandingkan memahami praktik konservasi yang telah lama dijalankan leluhur mereka. Padahal, praktik pengelolaan hutan, laut, dan sumber daya alam oleh masyarakat adat terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Dalam perspektif ilmu pengetahuan kontemporer, proses observasi empiris yang dilakukan masyarakat adat selama berabad-abad sesungguhnya merupakan fondasi dari sains itu sendiri — hanya saja tidak melalui prosedur akademik formal.
Ketidakadilan Pengetahuan di Papua
Ilmuwan Miranda Fricker dalam bukunya Epistemic Injustice: Power and the Ethics of Knowing (2007) menyebut fenomena ini sebagai epistemic injustice — ketidakadilan dalam mengakui sumber-sumber pengetahuan yang berbeda. Di Papua, proses ini berlangsung lebih kompleks karena bertemu dengan sejarah kolonialisme, pembangunan yang berorientasi ekstraksi sumber daya alam, serta sistem pendidikan yang lebih menghargai pengetahuan formal.
Gregory Cajete dalam Native Science: Natural Laws of Interdependence (2000) menyebut sistem pengetahuan masyarakat adat sebagai indigenous science, yaitu cara memahami alam yang berkembang melalui hubungan spiritual, ekologis, dan sosial secara terpadu. Dalam kerangka ini, manusia tidak diposisikan sebagai penguasa alam, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung.
Paradigma yang Perlu Diubah
Dunia akademik semakin menyadari bahwa pengetahuan masyarakat adat memiliki kontribusi penting dalam menjawab berbagai tantangan global. Hubungan antara sains modern dan etnosains seharusnya bersifat saling menguatkan, bukan memposisikan salah satu sebagai pesaing.
Papua menjadi contoh nyata bagaimana hubungan harmonis antara manusia dan alam telah berlangsung lama. Pertanyaannya kini: mampukah sistem pendidikan dan pembangunan modern mengakui bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari laboratorium?