PAPUA — Nilai ekonomi digital Indonesia pada 2026 disebut telah mendekati 130 miliar dolar AS (setara Rp 2.145 triliun dengan kurs Rp 16.500/USD). Angka itu disampaikan Raffi Ahmad sebagai alasan mengapa Indonesia tidak boleh berhenti di posisi pengguna.
Dengan lebih dari 220 juta pengguna internet, pasar domestik dinilai cukup besar untuk menjadi ruang eksperimen inovasi digital sebelum produk dilepas ke pasar global.
Mengapa Indonesia Disebut Hanya Jadi Pasar Aplikasi
Raffi menyoroti posisi Indonesia yang masih didominasi sebagai konsumen produk digital asing. Menurutnya, potensi ekonomi digital yang besar belum sepenuhnya dikonversi menjadi lahirnya produk teknologi karya anak bangsa.
"Indonesia jangan hanya menjadi pasar aplikasi saja. Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia," kata Raffi dalam sambutannya.
Ia menilai aplikasi lokal perlu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus berani memperluas pasar ke tingkat global.
"Aplikasi lokal itu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berani menuju pasar global. Itu yang memang bisa menjadi kebanggaan kita semuanya," ujarnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Syarat Ekosistem Digital
Raffi menekankan kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, investor, komunitas, dan generasi muda sebagai fondasi ekosistem digital nasional. Perkembangan teknologi yang cepat, katanya, membuat setiap pihak harus beradaptasi dan bersinergi.
"Tidak ada yang namanya superman berdiri sendiri di zaman sekarang. Tidak ada superman, yang ada super team," katanya.
Ia berharap Indonesia Apps Summit 2026 menjadi ruang pertemuan pemerintah, pelaku industri, akademisi, investor, komunitas, dan generasi muda untuk memperkuat ekosistem aplikasi nasional.
AI Bukan Ancaman, Tapi Alat yang Diciptakan Manusia
Raffi mengajak generasi muda tidak takut terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI adalah teknologi yang diciptakan manusia sehingga seharusnya dimanfaatkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat.
"Manusia tidak perlu takut sama AI. Kita yang menciptakan AI. AI tidak punya hati, tapi manusia punya hati," ujarnya.
Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak pengembang aplikasi, insinyur, programmer, coder, serta pelaku ekonomi kreatif yang mampu menggabungkan teknologi dan kreativitas.
Aplikasi sebagai Ekosistem Ekonomi Kreatif
Aplikasi saat ini dinilai Raffi bukan sekadar produk teknologi, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Ekosistem itu melibatkan berbagai profesi, mulai dari pengembang, desainer, animator, musisi, sineas, kreator konten, hingga pelaku UMKM.
"Jadi aplikasi sekarang itu bukan hanya sekadar produk teknologi, tetapi ini melahirkan ekonomi kreatif," kata Raffi.
Ia pun mengajak generasi Z dan milenial untuk terus meningkatkan kemampuan dan tidak berhenti belajar. Proses belajar dalam perkembangan teknologi saat ini berlangsung dua arah, ketika generasi muda dapat belajar dari generasi senior dan sebaliknya.
"Anak-anak muda harus naik kelas. Tentunya juga dari pengguna menjadi pencipta teknologi," ujarnya.
Harapan untuk Ekosistem Aplikasi Nasional
Raffi berharap Indonesia Apps Summit 2026 dapat memperkuat ekosistem aplikasi nasional dengan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan.
"Semangat untuk kita semuanya. Mari bersama-sama kita jadikan Indonesia bukan hanya bangsa pengguna, tetapi Indonesia bangsa pencipta, yang bisa menciptakan solusi dari Indonesia untuk dunia," kata Raffi.
Acara Indonesia Apps Summit 2026 berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Senin.