Pencarian

Pegiat Kerajinan Teluk Bintuni Apresiasi Aplikasi RUNGKRAF, Minta Bantuan Alat Modern dan Regenerasi Pengrajin

Rabu, 16 September 2026 • 20:16:01 WIB
Pegiat Kerajinan Teluk Bintuni Apresiasi Aplikasi RUNGKRAF, Minta Bantuan Alat Modern dan Regenerasi Pengrajin
Pegiat kerajinan Teluk Bintuni, Enggelbertus Kofiaga, menyampaikan harapannya agar produk kerajinan daerah menembus pasar internasional.

TELUK BINTUNI — Sosialisasi Aplikasi Ruang Kreatif (RUNGKRAF) bagi pelaku ekonomi kreatif Papua Barat tahun 2026 di Teluk Bintuni mendapat respons hangat dari pelaku usaha lokal. Enggelbertus Kofiaga, pegiat kerajinan tradisional yang mengelola Sanggar Madutuy Irarutu, menyebut kehadiran aplikasi ini sebagai angin segar bagi perajin di daerah.

Menurut Enggelbertus, platform digital itu membuka peluang agar produk khas Bintuni dikenal lebih luas, tidak berhenti di pasar lokal. Ia berharap produk kerajinan daerah bisa menembus pasar internasional.

Noken hingga Tikar Pandan, Kerajinan Bintuni Bernilai Ekonomi Tinggi

Produk kerajinan Teluk Bintuni memiliki nilai jual yang tidak kecil. Noken dihargai Rp100.000 hingga Rp200.000, topi kulit kayu Rp350.000, sedangkan tikar pandan dibanderol Rp500.000 sampai Rp1.000.000 tergantung ukuran.

Namun, proses produksinya masih dilakukan secara manual dan tradisional. Enggelbertus mengungkapkan bahwa pembuatan noken, tikar pandan, hingga olahan kulit kayu belum tersentuh teknologi modern.

Ia berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Teluk Bintuni serta Disbudpar Papua Barat. Bantuan alat bantu yang lebih canggih dibutuhkan untuk meningkatkan presisi dan nilai jual produk.

Salah satu kebutuhan mendesak adalah pengolahan serat kulit kayu agar lebih halus dan tipis. Dengan hasil olahan yang lebih baik, kulit kayu bisa dikembangkan menjadi pakaian, topi, hingga taplak meja.

Sanggar Madutuy Irarutu Terhenti Sejak 2020, Butuh Lemari dan Ruang Kerja

Sanggar Madutuy Irarutu sendiri terhenti sejak 2020/2021. Enggelbertus menyebut sanggar membutuhkan dukungan fasilitas seperti lemari penyimpanan dan ruang kerja yang representatif.

Dengan fasilitas itu, ia berharap mama-mama pengrajin bisa kembali aktif menganyam bersama. Posisi sanggar yang berada di pinggir jalan utama dinilai strategis untuk menarik wisatawan yang melintas.

"Kita berusaha supaya barang-barang ini mendunia. Ini akan mengangkat dan membuat masyarakat tambah semangat. Kalau hanya lokal, nanti tinggal begitu-begitu saja," ujar Enggelbertus.

Regenerasi dan Muatan Lokal Jadi Kekhawatiran Tersendiri

Selain persoalan alat dan fasilitas, Enggelbertus menyoroti pentingnya regenerasi di kalangan generasi muda. Ia menekankan perlunya muatan lokal (mulok) agar warisan budaya tidak punah.

Pembuatan tifa, tarian adat, dan lagu daerah disebutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus diwariskan. Tanpa regenerasi, pengetahuan itu berisiko hilang.

"Harapan kami, pemerintah tolong perhatikan kami karena kami bagian dari daerah ini. Dengan produk lokal, kami juga ikut membantu pemerintah membangun daerah dan mengangkat nama baik Kabupaten Teluk Bintuni ke dunia luar," pungkasnya.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: topbnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks