JAYAPURA — Dua tim dari Pasifik, Kanaky-Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis (Maohi Nui–Tahiti), ambil bagian dalam Piala Dunia dan Festival FIFA U-15 di Baku, Azerbaijan. Ajang yang berlangsung 22–30 Oktober itu berlangsung di tengah sorotan politik yang tidak diminta oleh para pemain muda tersebut.
Grup Inisiatif Baku (Baku Initiative Group/BIG) menyambut kedatangan kedua delegasi dan menjadikannya bahan kampanye menentang apa yang mereka sebut neo-kolonialisme Prancis. Kelompok yang mengklaim bagian dari Gerakan Non-Blok itu semakin vokal menyuarakan dukungan kemerdekaan wilayah-wilayah di Pasifik.
FCF Bantah Publikasi yang Kaitkan Pemain dengan Pesan Politik
Federasi Sepak Bola Kaledonia Baru tidak tinggal diam. Pada Kamis, 29 Oktober, FCF mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah publikasi BIG. Mereka menilai organisasi asal Azerbaijan itu mengaitkan citra tim U15 mereka dengan pesan politik dekolonisasi, termasuk lewat visual yang menampilkan sejumlah pemain secara individual.
"Tim U15 kami berpartisipasi dalam acara olahraga, bukan inisiatif politik," demikian bunyi siaran pers FCF, dikutip Jubi dari laman la1ere.franceinfo.fr, Jumat (30/10/2026).
FCF menegaskan tidak pernah menyetujui atau memberi wewenang kepada asosiasi mana pun untuk memakai citra para pemainnya. Mereka juga membantah kehadiran delegasi di Baku dapat dianggap sebagai dukungan terhadap pesan politik tersebut.
Minta FIFA dan OFC Turun Tangan
Badan pengatur sepak bola Kaledonia Baru itu menuntut penghapusan unggahan BIG. FCF mengumumkan telah menghubungi FIFA dan OFC selaku konfederasi sepak bola Oseania untuk menindaklanjuti persoalan ini.
Mereka mendesak masyarakat tidak membagikan unggahan tersebut dan meminta pengguna internet yang telanjur menyebarkannya untuk menghapus dari akun masing-masing. Alasannya jelas: para pemain yang digambarkan adalah anak di bawah umur.
"Partisipasi tim kami dalam Piala Dunia dan Festival U-15 FIFA 2026 sepenuhnya berada dalam kerangka olahraga, yang bertujuan untuk pengembangan pemain muda kami, interaksi antar tim, dan saling menghormati. FCF bersikap netral dari sudut pandang politik dan agama," tulis federasi tersebut.
Rekam Jejak BIG dan Ketegangan dengan Paris
Grup Inisiatif Baku memang kerap menyerang Prancis. Akun media sosial mereka terus mengecam neo-kolonialisme yang dikaitkan dengan Paris, dan dalam beberapa hari terakhir menyoroti anggota delegasi Kaledonia Baru serta Tahiti yang hadir di Piala Dunia U15.
"Di luar sepak bola," tulis BIG, "pertandingan ini menarik perhatian dunia pada penderitaan yang mereka alami di bawah kolonialisme Prancis dan perjuangan mereka untuk menentukan nasib sendiri."
Sejak kerusuhan Mei 2024 di Kaledonia Baru, BIG dituduh oleh dinas intelijen Prancis terlibat dalam kampanye campur tangan siber asing. Tuduhan itu dibantah kelompok tersebut.
Kemenangan Bersejarah di Tengah Kekalahan Beruntun
Dari sisi pertandingan, perjalanan ke Azerbaijan menjadi pengalaman naik-turun bagi tim muda Cagous. Kaledonia Baru menelan kekalahan telak 0-7 dari Nigeria dan 1-8 dari Kuba, serta kalah 0-6 melawan Lebanon.
Namun mereka mencatat kemenangan bersejarah 2-1 atas Burkina Faso. Sebelumnya, tim asuhan FCF itu bermain imbang 3-3 melawan Antigua dan Barbuda, dan kalah 2-7 dari Irlandia Utara.
Di luar lapangan, para penggemar dari Kanaky–Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis berkumpul di luar Perkampungan Atlet untuk menyambut para pemain. Mereka menyatakan dukungan sekaligus menegaskan komitmen melestarikan identitas nasional, budaya, dan tradisi masing-masing.
Piala Dunia dan Festival FIFA U-15 di Baku diikuti tim dari 189 asosiasi sepak bola. BIG sebelumnya menyebut sepak bola membantu memperkuat persahabatan antar bangsa dan memupuk ikatan budaya di kawasan Pasifik.