SORONG — Data pemantauan DLH Papua Barat Daya selama dua pekan terakhir menunjukkan sejumlah titik terumbu karang di Raja Ampat berubah warna menjadi putih. Julian Kelly Kambu menyampaikan temuan itu saat menghadiri kegiatan wisata lingkungan yang digelar Yayasan Bersama Satu Harmoni (YBSH) di lapangan Futsal Banyu Langit, SP 2, Kabupaten Sorong, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Julian, pemutihan karang di kawasan konservasi itu tidak disertai masuknya limbah ke perairan. Kondisi tersebut mengarah pada kenaikan suhu air laut sebagai pemicu, yang membuat karang kehilangan kemampuan bertahan hidup.
"Tidak ada limbah yang masuk, tetapi karangnya sudah memutih. Artinya, suhu air laut semakin panas sehingga karang bisa mati," ungkap Julian di hadapan peserta kegiatan.
Dampak Pemutihan Karang bagi Ikan dan Wisatawan
Kerusakan terumbu karang tidak berhenti pada biota laut. Julian menilai populasi ikan di perairan Raja Ampat berpotensi menurun jika karang mati, karena terumbu berfungsi sebagai tempat hidup dan berkembang biak berbagai jenis ikan.
Efek lanjutannya menyentuh sektor pariwisata. Keindahan bawah laut Raja Ampat yang selama ini menjadi daya tarik utama wisatawan dapat berkurang, sehingga minat kunjungan ikut terancam.
Julian menegaskan Papua selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi kelestarian lingkungan dunia. Status itu, katanya, harus dijaga bersama di tengah meningkatnya ancaman pemanasan global.
"Jangan sampai kita meninggalkan air mata, tetapi harus mewariskan mata air bagi anak cucu kita," tegasnya.
Dorong Peta Jalan Iklim dan Dukungan BPDLH
DLH Papua Barat Daya mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat rehabilitasi lingkungan sekaligus menyusun peta jalan penanganan perubahan iklim. Salah satu peluang yang dijajaki adalah dukungan program dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).
Julian menyoroti karhutla di Papua yang disebutnya turut memicu pemanasan global berkepanjangan. Kawasan yang dijuluki paru-paru dunia itu, menurut dia, menghadapi tekanan lingkungan dari berbagai arah.
Selain langkah pemerintah, perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan lingkungan. Edukasi kepedulian terhadap alam perlu diperkuat melalui sekolah, keluarga, dan tempat ibadah.
Pendekatan Ecotheology dan Bibit Pohon untuk Sekolah
Julian menekankan pentingnya pendekatan ecotheology, yakni memadukan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Krisis iklim, menurutnya, merupakan persoalan bersama yang tidak mengenal perbedaan suku, agama, maupun warna kulit.
"Lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Bumi ini harus tetap dijaga agar generasi mendatang masih bisa menikmati udara bersih, air bersih, dan alam yang lestari," pungkasnya.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah, DLH menyerahkan bibit pohon kepada perwakilan guru pendamping peserta wisata lingkungan. Bibit tersebut akan ditanam di sekolah masing-masing sebagai bagian dari edukasi lingkungan berkelanjutan.