Pembeli Saham dan ETF AS Tertokenisasi di PINTU Melonjak 68% pada Kuartal III-2026

Penulis: Yasir  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:53:01 WIB
Ilustrasi pengguna bertransaksi saham dan ETF AS tertokenisasi di platform PINTU.

PAPUA — Jumlah pengguna yang membeli saham dan ETF Amerika Serikat tertokenisasi di platform PINTU naik 68% dibanding kuartal II-2026. Lonjakan pembeli itu diikuti pertumbuhan trader aktif 64%, jumlah transaksi 55%, dan volume trading 51% sepanjang kuartal III-2026.

PT Pintu Kemana Saja mencatat minat investor ritel Indonesia terhadap aset tertokenisasi berlanjut pada kuartal III-2026. Platform yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan itu menyebut kenaikan jumlah pembeli terjadi setelah ekspansi pilihan aset sejak 2025.

Per Oktober 2026, PINTU menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham AS, ETF, dan sejumlah komoditas. Nilai transaksi minimumnya Rp11.000, sehingga terjangkau bagi investor pemula yang ingin menambah eksposur ke pasar global.

Nvidia dan Apple Pimpin Kenaikan Jumlah Pembeli

Empat aset tertokenisasi mencatat lonjakan pembeli paling tajam pada kuartal III-2026. Nvidia (NVDAX) naik 224%, Apple (AAPLX) naik 212%, Alphabet (GOOGLX) tumbuh 131%, dan Robinhood (HOODX) meningkat 118%.

Dari sisi volume trading, aset tertokenisasi Meta (METAX) mencatat kenaikan lebih dari 230%. Presiden Direktur PINTU Andy Putra menilai pertumbuhan itu menandakan pengguna semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan teknologi global.

"Pertumbuhan ini menandakan pengguna platform PINTU semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan teknologi global dan memperluas pilihan aset untuk membangun portofolionya," ujar Andy dalam keterangan resmi, Sabtu (24/10/2026).

Diversifikasi ke Emas, Bukan Sekadar Saham Teknologi

Pola pembelian menunjukkan pergeseran dari sekadar mengejar tren saham teknologi. Jumlah pembeli SPDR Gold ETF naik lebih dari 170% pada kuartal III-2026, tanda pengguna mulai memakai aset tertokenisasi untuk menyebar risiko portofolio.

Andy menyebut pengguna memanfaatkan aset tertokenisasi sebagai alat diversifikasi. Eksposur emas lewat ETF dinilai menjadi pelengkap di tengah dominasi saham teknologi dalam daftar aset paling diburu.

Bagi investor ritel, aset tertokenisasi memberi jalur alternatif memiliki pecahan saham perusahaan AS tanpa membuka rekening di broker luar negeri. Namun instrumen ini tetap membawa risiko harga aset acuan, risiko likuiditas, dan risiko teknologi yang melekat pada penyimpanan token.

Arti Angka bagi Pelaku Pasar dan Platform

Kenaikan dua digit pada semua metrik utama menunjukkan adopsi aset tertokenisasi di Indonesia belum melambat. Pertumbuhan volume trading 51% lebih kecil dibanding kenaikan jumlah pembeli 68%, indikasi banyak pengguna baru masih bertransaksi dalam nominal kecil saat masuk pertama kali.

Bagi PINTU, data kuartal III-2026 memperkuat posisi aset tertokenisasi sebagai lini bisnis di luar perdagangan kripto murni. Persaingan ke depan akan ditentukan oleh kedalaman daftar aset, biaya transaksi, dan kecepatan platform menambah emiten baru yang dicari investor global.

OJK sendiri telah mengatur perdagangan aset kripto di Indonesia, dan PINTU menempatkan diri sebagai platform berizin dalam kerangka pengawasan tersebut. Investor disarankan mencermati prospektus aset acuan serta memastikan profil risiko sebelum menempatkan dana pada instrumen tertokenisasi.

Reporter: Yasir
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top