Greenpeace Luncurkan Dua Buku Anak soal Hutan dan Laut, Angkat Kisah Anak Raja Ampat dan Penjaga Pohon Adat

Penulis: Ragil  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:47:01 WIB
Peluncuran dua buku anak bergambar Greenpeace berlangsung di Ubud, Bali, Sabtu (24/10/2026) malam.

JAYAPURA — Dua buku anak bergambar itu lahir dari riset lapangan yang tidak sebentar. Titah AW dan Sekar Bestari mewawancarai warga yang mengalami langsung peristiwa di balik kedua cerita, lalu melakukan observasi ke Raja Ampat dan Papua Selatan.

Hasilnya, ilustrasi dalam buku diharapkan merepresentasikan tempat dan kehidupan masyarakat di dalamnya secara lebih akurat. Peluncuran berlangsung Sabtu (24/10/2026) malam di Ubud, Bali.

Kisah Pin di Raja Ampat dan Yema yang Menjaga Tujuh Pohon Raksasa

Buku Luka Pulau-Pulau Kecil mengikuti keseharian Pin, seorang anak Raja Ampat. Hari-harinya dihabiskan di antara pulau-pulau kecil bersama orang tua dan sahabatnya Ruga, penyu belimbing.

Pin mendayung perahu, berenang di laut, dan menikmati alam yang penuh warna. Sampai suatu hari sesuatu datang ke rumahnya dan warna-warna itu mulai menghilang satu per satu. Cerita bergulir pada upaya Pin menyelamatkan rumahnya.

Buku kedua, Rumah Kami Bukan Tanah Kosong, mengajak anak menyelami kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Tokohnya seorang anak laki-laki bernama Yema.

Kakeknya yang sedang sekarat mempercayakan Yema menjaga tujuh pohon raksasa di hutan adat dekat rumah mereka. Pohon-pohon itu dipercaya membawa keberuntungan dan kehidupan bagi kampung.

Konflik muncul ketika orang-orang asing datang naik tank dan buldoser, bertekad merobohkan pohon-pohon tersebut. Cerita berpusat pada upaya Yema menghentikan mereka.

Cerita Aslinya Pahit, Titah AW Sisipkan Harapan untuk Generasi Muda

Titah AW mengakui cerita asli dari semua serial buku anak itu pahit dan menyedihkan. Namun karena menyasar generasi muda, ia dan tim ingin menghimpun solidaritas antar generasi.

"Akan tetapi karena kami bicara ke generasi muda, kami ingin menghimpun solidaritas antar generasi dan berusaha menaruh sedikit harapan dari ceritanya," kata Titah AW dalam siaran pers Greenpeace, Sabtu malam (24/10/2026).

Menurut Titah, buku ini menjadi ajakan bagi anak-anak untuk ikut bersuara setelah membacanya. Paling tidak, mereka mengerti dan membuka obrolan di lingkaran keluarga atau pertemanan masing-masing mengenai permasalahan tersebut.

Ilustrator Bidik Anak-Anak di Wilayah Urban

Ilustrator asal Yogyakarta Sekar Bestari menyebut salah satu sasaran pembaca buku ini adalah anak-anak yang hidup di wilayah urban. Hubungan mereka dengan hutan, kata Sekar, hanya sebatas melihatnya sebagai latar belakang pemandangan.

"Aku merasa kalau sejak kecil sudah dikenalkan bahwa hutan itu juga organisme yang hidup, di dalamnya banyak makhluk, bahkan manusia, itu bisa membangun empati mereka juga yang akan dibawa ke masa depan," ujar Sekar Bestari.

Anak-Anak Punya Imajinasi Sendiri soal Perlawanan

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji, menyoroti peran anak-anak dalam perjuangan menjaga hutan. Menurutnya, anak-anak punya imajinasi sendiri tentang perlawanan yang mereka pelajari dari kakek, nenek, serta keluarga.

"Anak-anak punya imajinasi sendiri tentang perlawanan yang mereka pelajari dari kakek, nenek, serta keluarga. Perlawanan tersebut tidak selalu besar dan bisa dimulai dari hal-hal kecil," ucap Sekar Banjaran Aji.

Dengan begitu, perlawanan bisa lebih mengakar pada ruang hidup dan komunitas masing-masing. Hutan adalah ruang hidup bersama, mulai dari komunitas, keluarga di dalam komunitas, hingga anak-anak di dalamnya.

Pertaruhannya Masa Depan Anak

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia lainnya, Belgis Habiba, menilai buku cerita anak adalah medium penting untuk mengenalkan persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini. Sebagai generasi yang akan hidup di masa depan, anak-anak perlu memahami apa yang terjadi pada lingkungan mereka.

"Kami merasa bahwa hal-hal ini penting untuk diketahui oleh generasi mendatang, karena pembangunan dan industri ekstraktif yang merusak dapat berdampak pada keberlangsungan masa depan mereka. Mereka harus tahu apa yang dialami Bumi saat ini karena pertaruhannya adalah masa depan mereka," ujarnya.

Suara dari Papua di Panggung UWRF 2026

Peluncuran dua buku cerita anak merupakan satu dari rangkaian agenda Greenpeace Indonesia di UWRF 2026. Greenpeace juga membawa suara dari Papua dengan menghadirkan Yosepina Sreklefat, perempuan dari Kampung Kwowok di Papua Barat Daya, dalam panel A Feast of Stories.

Maria Guriti Amote dari Boven Digoel, Papua Selatan, tampil dalam panel Our History, Our Hands sebagai perwakilan Masyarakat Adat dalam melindungi hutan di Tanah Papua. Dua Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji dan Belgis Habiba, juga berpartisipasi dalam sejumlah diskusi panel seperti Environment Vulnerability and Activism in Indonesia dan Fast Forward Climate Edition.

Reporter: Ragil
Sumber: jubi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top