JAKARTA — Peneliti NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, Robert Field, menyebut lonjakan emisi karhutla Papua sebagai kondisi serius. Data GFED mencatat emisi karbon di Papua bagian Indonesia telah melewati 35 megaton, dengan puncak kebakaran berlangsung sejak September hingga Oktober 2026.
Kekeringan akibat El Nino menjadi pemicu utama. Pola curah hujan yang berubah membuat sejumlah ekosistem di Pulau Papua mengering dan mudah terbakar.
Trans-Fly Kering Lebih dari 90 Hari Tanpa Hujan
Di kawasan Trans-Fly, bagian selatan Papua Nugini, kekeringan berlangsung lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan. Sejumlah wilayah hanya menerima 5–10 persen dari curah hujan normal sejak Agustus.
Kondisi itu meningkatkan risiko kebakaran sekaligus memicu gagal panen, kekurangan air, dan gangguan kegiatan sekolah. Asap menyelimuti sebagian besar wilayah selama berminggu-minggu, polusi udara meningkat, dan sejumlah sekolah terpaksa menghentikan belajar.
“Ini situasi yang mengerikan,” kata Robert Field dalam keterangan yang diterbitkan Kamis (22/10/2026), dikutip dari laman NASA, Minggu (25/10/2026).
Papua Nugini Cetak Rekor Emisi Baru
Kebakaran di Papua Nugini melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga 17 Oktober 2026. Ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, menyebut angka itu melampaui total emisi sepanjang 2015.
“Emisi sudah jauh lebih tinggi dibandingkan total sepanjang 2015, dan sangat mungkin tahun ini menjadi yang tertinggi dalam catatan Papua Nugini, bahkan melampaui 1997,” ujar Van der Werf.
Satelit NOAA-20 dengan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) merekam kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober 2026. Field menjelaskan sebagian asap naik ke lapisan atmosfer lebih tinggi atau tersapu hujan saat memasuki sistem badai, tetapi sebagian besar tetap berada dekat permukaan Bumi.
Pembukaan Lahan dan Deforestasi di Balik Titik Api
Para peneliti menyebut sebagian besar kebakaran di Papua berkaitan dengan aktivitas manusia. Pembakaran lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, pembukaan hutan, dan perburuan menjadi pemicu awal.
Ketika vegetasi mengering, api yang semula terkendali lebih mudah menyebar menjadi kebakaran tidak terkendali. NASA juga menyoroti perubahan penggunaan lahan dan deforestasi di Papua Indonesia untuk perkebunan kelapa sawit, tanaman bahan baku bubur kertas, pertanian skala kecil, perluasan kawasan perkotaan, dan pertambangan.
Data Global Forest Watch menunjukkan Papua kehilangan sekitar 27 ribu hektare hutan primer sepanjang 2025. Luas kehilangan itu hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2017.
Indonesia Timur Lebih Aktif daripada Sumatra
Peneliti University of California, Irvine, Yang Chen, menyebut aktivitas kebakaran tahun ini di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur lebih tinggi dibandingkan sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.
“Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya,” ucap Chen.
Para peneliti memperkirakan kebakaran masih berlanjut hingga hujan lebat tiba di bagian selatan Pulau Papua. Musim hujan di kawasan tersebut biasanya mulai pada awal November.