Pencarian

Kerja Lembur Bikin Bahagia? Riset UGM Ungkap Karyawan BUMN Workaholic Justru Lebih Betah di Kantor

Minggu, 07 Juni 2026 • 19:26:31 WIB
Kerja Lembur Bikin Bahagia? Riset UGM Ungkap Karyawan BUMN Workaholic Justru Lebih Betah di Kantor
Karyawan BUMN yang mendapat dukungan atasan lebih betah meski kerja lembur.

PAPUA — Selama ini, budaya kerja hingga larut malam identik dengan risiko burnout. Namun, penelitian yang dipimpin Profesor Reni Rosari, Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM, menunjukkan sebaliknya. Karyawan yang terus-menerus memikirkan pekerjaan ternyata bisa merasa puas — selama mereka mendapat dukungan dari atasan dan melihat makna dalam tugasnya.

Empat Pemicu Bahagia di Tengah Lembur

Riset itu mengidentifikasi sejumlah kondisi yang membuat karyawan BUMN tetap betah meski bekerja keras. Pertama, rasa terus berkembang — karyawan merasa selalu belajar dan mengasah keahlian baru. Kedua, produktivitas tinggi — ada kepuasan saat target menantang berhasil dicapai dan memberi kontribusi nyata.

Faktor ketiga adalah dukungan pemimpin. Atasan yang mampu merangkul dan menghargai dedikasi secara personal menjadi pembeda besar. Keempat, makna kerja — dalam budaya Indonesia, kerja keras sering dianggap sebagai bentuk loyalitas dan nilai moral yang membanggakan.

Inclusive Leadership: Kunci Mengubah Beban Jadi Dedikasi

Profesor Reni menekankan peran vital kepemimpinan inklusif atau inclusive leadership. Pemimpin model ini tidak hanya mengejar angka dan target, tetapi juga memastikan setiap anggota tim merasa didengar, dihargai, dan punya ruang mengembangkan potensi.

“Ketika karyawan merasa dihargai secara manusiawi, kerja keras tidak lagi terasa sebagai beban berat, melainkan dedikasi yang memuaskan,” jelas Reni dalam paparan risetnya. Perbedaan kepemimpinan biasa dengan inklusif terletak pada cara memanusiakan proses demi mencapai hasil.

Budaya Hierarkis BUMN Jadi Panggung Unik

Studi ini juga menyoroti keunikan budaya organisasi di BUMN yang cenderung hierarkis. Di lingkungan seperti itu, kerja keras kerap dipandang sebagai cerminan integritas dan nilai moral karyawan. Alhasil, meningkatkan kebahagiaan di kantor tidak cukup dengan fasilitas mewah atau insentif materi semata.

Hubungan harmonis antara atasan dan bawahan justru lebih krusial dalam menjaga semangat kerja. Riset ini menegaskan bahwa ketika individu diberi kesempatan bertumbuh, kerja keras bisa bertransformasi menjadi sumber kebahagiaan hakiki — bukan lagi sekadar beban.

Bagikan
Sumber: inikata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks