Setelah seri pertamanya dianggap terlalu ambisius dengan peta terbuka yang terasa renggang, Frogwares mengambil pendekatan berbeda untuk sekuelnya. Alih-alih membiarkan pemain bebas menjelajahi satu kota utuh, The Sinking City 2 dirancang seperti Resident Evil versi H.P. Lovecraft — ada ruang untuk eksplorasi di dalam setiap level, tapi bukan dunia yang bisa dijelajahi tanpa batas.
Arkham yang Tenggelam dan Makhluk Baru yang Mengintai
Latar game ini dipindahkan ke Arkham, kota fiksi yang namanya diadopsi dari panti jiwa dalam komik Batman. Di sini, air telah menenggelamkan sebagian besar wilayah, sehingga pemain bisa menggunakan perahu motor seperti di game pertama untuk berpindah antarlokasi.
Frogwares juga memperkenalkan trailer baru yang memperlihatkan berbagai monstrositas Mythos — termasuk zombie dengan titik lemah menonjol yang harus ditembak, dan sesosok putri duyung misterius. "Yah, semua hibrida manusia-ikan yang mengerikan itu pasti berasal dari suatu tempat," tulis sang pengulas, merujuk pada cerita klasik Lovecraft The Shadow Over Innsmouth.
Jendela Rilis yang Tepat di Tengah Banjir Game Horor
Dengan tanggal rilis 18 Agustus 2025, The Sinking City 2 hadir beberapa pekan sebelum dua game horor besar lainnya: Silent Hill: Townfall dan RPG vampir The Blood of Dawnwalker yang dijadwalkan rilis pada September. Frogwares tampaknya sengaja menghindari riuh rendah Oktober yang biasanya dipadati game horor — strategi yang cukup cerdas untuk merebut perhatian pemain lebih awal.
Demo yang tersedia mulai hari ini di Steam bisa menjadi ajang uji coba bagi pemain yang penasaran apakah pendekatan baru Frogwares ini berhasil memperbaiki kelemahan seri pertamanya. Sayangnya, belum ada informasi mengenai ketersediaan demo untuk konsol atau dukungan bahasa Indonesia.
Dari Open-World ke Survival Horror yang Lebih Rapat
Keputusan Frogwares meninggalkan formula open-world patut dicermati. Seri pertama The Sinking City memang dipuji karena atmosfernya, namun banyak pemain mengeluhkan peta yang terlalu luas dengan konten yang tersebar tipis. Untuk sekuel ini, studio asal Ukraina itu memilih struktur level yang lebih linear namun padat — mirip dengan Resident Evil klasik, di mana setiap lorong dan ruangan terasa penuh ancaman.
Perubahan ini sekaligus menjawab kritik bahwa game horor tidak selalu membutuhkan dunia terbuka yang besar; yang lebih penting adalah ketegangan yang terjaga dari awal hingga akhir. Jika demo satu jam ini berhasil membuktikan konsep tersebut, The Sinking City 2 berpotensi menjadi salah satu game horor paling solid di tahun 2025.