PAPUA — Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz mulai berdampak nyata pada peta energi Asia. Gangguan pasokan LNG dari Qatar, yang mengandalkan jalur laut tersebut, membuat harga gas melonjak. Alhasil, Jepang dan Korea Selatan—dua raksasa industri yang selama ini bergantung pada gas alam—kembali menggenjot pembangkit listrik berbasis batu bara untuk menjaga pasokan listrik nasional.
Fenomena serupa juga terjadi di Asia Tenggara. Vietnam, Thailand, dan Filipina memilih menambah jam operasi PLTU demi keamanan pasokan. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian pasokan gas yang dipicu oleh konflik yang mengganggu 20% perdagangan LNG dunia.
Harga Batu Bara Bangkit, Minyak Mentah Ikut Meroket
Data dari Refinitiv menunjukkan harga batu bara acuan ditutup di angka US$148,00 per ton pada perdagangan kemarin. Angka ini naik 0,72% setelah sehari sebelumnya ambruk 2,26%. Penguatan ini terjadi seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 2% ke US$89,72 per barel, sementara Brent naik 1,3% ke level US$92,74 per barel.
Korelasi antara batu bara dan minyak mentah memang kuat. Keduanya kerap menjadi substitusi energi primer. Ketika harga minyak dan gas naik, permintaan batu bara ikut terdongkrak sebagai alternatif yang lebih murah.
Konsumsi Batu Bara Asia Diprediksi Melonjak 100 Juta Ton
Konsultan energi Rystad Energy memperkirakan konsumsi batu bara termal di Asia bisa melonjak hingga 100 juta ton akibat krisis LNG saat ini. Separuh dari lonjakan tersebut diproyeksikan terjadi pada tahun 2026 saja. Angka ini menunjukkan betapa besar dampak gangguan pasokan gas terhadap permintaan batu bara di kawasan.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi angin segar. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, lonjakan permintaan dari negara-negara Asia berpotensi mendongkrak harga dan volume ekspor. Meski demikian, para pengamat energi mengingatkan bahwa langkah kembali ke batu bara ini hanyalah solusi jangka pendek di tengah target transisi energi yang terus bergulir.