Pencarian

Krisis Iklim, Kehilangan Hayati, dan Polusi: DLH Jayapura dan WWF Ajak Masyarakat Lawan Triple Planetary Crisis Lewat Pengelolaan Sisa Makanan

Rabu, 17 Juni 2026 • 23:14:01 WIB
Krisis Iklim, Kehilangan Hayati, dan Polusi: DLH Jayapura dan WWF Ajak Masyarakat Lawan Triple Planetary Crisis Lewat Pengelolaan Sisa Makanan
Peserta lokakarya di Holey Narey Learning Centre mengikuti pelatihan pengelolaan sisa makanan untuk melawan krisis lingkungan.

JAYAPURA — Tiga krisis lingkungan mengancam stabilitas bumi: perubahan iklim, kerusakan alam dan hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah. Kini, isu ini menjadi perhatian serius di Tanah Papua. DLH Kabupaten Jayapura dan WWF Indonesia Program Papua menggandeng komunitas agama, kelompok adat, mahasiswa, hingga sekolah Adiwiyata untuk beraksi nyata melalui pengelolaan sampah makanan dan kampanye media sosial.

Mengapa Sisa Makanan Jadi Sorotan?

Dalam rilis resmi yang diterima Jubi, Rabu (3/6/2026), WWF Indonesia Program Papua menjelaskan bahwa sisa makanan menghasilkan metana. Gas rumah kaca ini 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam memerangkap panas selama 100 tahun. “Setiap hari kita dikelilingi isu lingkungan—sampah plastik yang tak kunjung usai, populasi satwa liar yang terus menurun, hingga deforestasi yang meluas,” tulis WWF.

Dampak tiga krisis ini sudah terasa: cuaca ekstrem, penurunan kualitas lingkungan, dan menipisnya sumber daya alam yang menopang kehidupan manusia.

Langkah Kecil dari Dapur dan Layar Ponsel

WWF menekankan bahwa tantangan lingkungan besar tidak selalu membutuhkan aksi skala besar. “Kita bisa memulainya dari kebiasaan sederhana: mengambil makanan secukupnya, menghabiskan apa yang kita ambil, dan mengelola sisa makanan dengan lebih bertanggung jawab,” demikian pernyataan organisasi tersebut.

Kampanye ini juga mendorong gaya hidup berkelanjutan: memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, dan menghemat energi. Pesan-pesan positif tentang lingkungan disebarluaskan melalui media sosial sebagai bentuk edukasi publik, khususnya soal sisa makanan.

Lokakarya Kompos dan Konten Kreatif di Holey Narey

Puncak kegiatan berlangsung di Holey Narey Learning Centre milik WWF Indonesia Program Papua, dengan tema “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi”. Acara ini merupakan lanjutan rangkaian edukasi lingkungan yang dimulai pada Hari Bumi, 24 April 2026.

Peserta dari komunitas lintas agama, kelompok lingkungan, masyarakat adat, mahasiswa, dan perwakilan sekolah Adiwiyata mengikuti pelatihan pembuatan kompos dari sisa makanan. Mereka juga mengikuti workshop pembuatan konten kampanye media sosial berbasis komunitas. “Kegiatan ini menyediakan ruang kolaborasi bagi komunitas untuk membangun kesadaran bahwa mengomposkan sisa makanan dan membagikan konten edukatif di media sosial adalah langkah nyata menghadapi triple planetary crisis,” ujar panitia.

Suara dari Komunitas: Semangat Baru Mengelola Sampah

Yulius Hindom, perwakilan komunitas lintas agama PAM GKI Onomi Felavauw, menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Semua harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari. “Agama mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Edukasi tentang praktik sederhana seperti mengolah sisa makanan sangat penting dan harus disebarluaskan,” kata Hindom.

Ia menambahkan, pelatihan ini membangkitkan kembali semangat komunitasnya. “Gereja kami sebenarnya punya fasilitas komposter, tapi sudah lama tidak aktif. Saya yakin pelatihan ini akan menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam mengelola sampah di lingkungan gereja.”

Kolektif Lebih Kuat dari Individu

Adelia Tania, Campaign Officer WWF Indonesia Program Papua, menekankan bahwa perlindungan lingkungan tidak bisa dicapai hanya dengan upaya individu. Menurutnya, ketika sebuah komunitas berbagi kisah sukses dan praktik terbaik dari pengalaman lokalnya, pesan tersebut menjadi lebih mudah diterima. “Memperkuat pesan positif lingkungan melalui media sosial adalah salah satu cara nyata menunjukkan kepedulian kita terhadap planet ini,” ujar Tania.

Ia menilai inisiatif pengomposan komunitas merupakan solusi praktis. Cara ini memungkinkan masyarakat mengatasi masalah pengelolaan sampah, khususnya sisa makanan, secara mandiri.

Bagikan
Sumber: jubi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks