JAYAPURA — Ancaman terhadap ekosistem perairan di Papua kian nyata. Sebagian besar terumbu karang di wilayah pesisir dilaporkan sudah rusak parah. Pemerintah Provinsi Papua pun mendorong aksi rehabilitasi sebagai langkah darurat untuk menumbuhkan kembali karang yang mati.
Penyebab Kerusakan: Bukan Hanya Faktor Alam
Menurut Kepala DKP Papua Iman Djuniawal, kerusakan terumbu karang tidak hanya dipicu oleh bencana alam seperti gempa dan abrasi. Sedimentasi dan sampah yang menutup permukaan karang juga menjadi penyebab utama.
"Oleh karena itu, perlu dilakukan rehabilitasi dari yang ada saat ini sebagai upaya menumbuhkan kembali karang-karang yang sudah rusak," kata Iman di Jayapura, Rabu.
Edukasi Warga Jadi Kunci Pemulihan
Pemprov Papua tidak bisa bekerja sendiri. Iman mengajak seluruh masyarakat untuk ikut merawat karang melalui edukasi tentang dampak langsung jika ekosistem ini hancur. Salah satu langkah konkret yang didorong adalah gotong royong membersihkan sampah laut.
Iman memberikan apresiasi kepada Palang Merah Indonesia (PMI) yang telah memberikan edukasi dan pengenalan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya terumbu karang. Menurutnya, peran organisasi seperti PMI sangat membantu pemerintah daerah dalam menyosialisasikan pesan ini.
Waktu Pemulihan: Menit untuk Rusak, Puluhan Tahun untuk Tumbuh
Dalam kesempatan itu, Iman menekankan betapa rapuhnya ekosistem karang. Ia mengingatkan bahwa untuk menghancurkan karang hanya dibutuhkan waktu beberapa menit, tetapi untuk menumbuhkannya kembali diperlukan waktu hingga puluhan tahun.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memperlakukan karang seenaknya saja," ujarnya.
Pesan ini menjadi pengingat keras bagi warga pesisir Papua yang selama ini menggantungkan hidup pada laut. Tanpa terumbu karang yang sehat, rantai makanan laut akan terganggu dan hasil tangkapan nelayan bisa menurun drastis.