JAYAPURA — Ketergantungan warga Papua Nugini terhadap pangan lokal tetap tinggi di tengah arus modernisasi. Di Distrik Wosera-Gawi, Provinsi Sepik Timur, seorang petugas pertanian bernama Angela Gosiba menjadi motor penggerak sistem pangan berkelanjutan.
Angela adalah Petugas Ketahanan Pangan dan Koordinator Pertanian Distrik Sementara untuk Wosera-Gawi. Ia bekerja di bawah Program EU-STREIT PNG yang didanai Uni Eropa. Program ini mengubah pengalaman lapangan seorang petugas distrik menjadi sistem lokal yang berkelanjutan, sebagaimana dikutip Jubi dari laman pnghausbung.com, Sabtu (20/6/2026).
Dari Pelatihan Jadi Gerakan Komunitas
Awalnya hanya program pelatihan, inisiatif ini berkembang menjadi gerakan berbasis komunitas. Keluarga-keluarga di Distrik Wosera-Gawi belajar merencanakan bersama, mengelola pendapatan, dan membuat keputusan yang menguntungkan seluruh rumah tangga.
Angela menyebut, bekerja sebagai perempuan di sektor pertanian bukan perkara mudah. Ia harus bepergian ke tempat terpencil, seringkali dengan berjalan kaki, dan tinggal bersama keluarga petani di desa-desa mereka.
Perempuan dan Pemuda Jadi Sasaran Utama
Melalui kerja lapangan bertahun-tahun, Angela menemukan tantangan yang berulang: perempuan memberi kontribusi besar pada produksi pangan tetapi akses terhadap pelatihan, sumber daya, dan pengambilan keputusan masih terbatas. Kaum muda menghadapi hambatan serupa.
Program EU-STREIT PNG kemudian melatih Angela sebagai Pelatih Gender, satu dari sekitar 70 petugas pemerintah dan petani yang diperlengkapi untuk menyampaikan Sistem Pembelajaran Aksi Gender (GALS) di Sepik Timur dan Barat.
Pendekatan ini menggunakan gambar dan alat perencanaan visual, bukan dokumen tertulis. Hal ini memudahkan keluarga di pedesaan mengidentifikasi tujuan dan mendiskusikan tanggung jawab rumah tangga.
“Masyarakat kita di kampung mungkin tidak mampu membuat rencana proyek tertulis, tetapi melalui gambar mereka dapat memahami dan berpartisipasi,” jelas Angela.
Hasil Nyata: Kebun Sertifikat hingga Rekening Bank
Di Blamda, Wosera Utara, Angela menggabungkan penyuluhan kakao dengan perencanaan rumah tangga. Ia mendirikan kebun tunas bersertifikat untuk bibit kakao yang tahan hama penggerek buah. Kebun itu kini memasok bahan tanam ke lebih dari sepuluh komunitas.
Para petani juga mendapat keterampilan manajemen keuangan dan kewirausahaan. Banyak di antaranya membuka rekening bank dan menjalankan usaha kakao skala kecil.
Keputusan Keluarga Kini Lebih Setara
Dampak program terasa hingga ke relasi keluarga. Angela mencontohkan keluarga Wani, di mana keputusan rumah tangga dulu hanya dibuat sang ayah.
“Sebelum pelatihan, sang ayah mengambil semua keputusan tanpa melibatkan istri atau anak-anaknya,” kata Angela. “Setelah mengikuti GALS, ia menyadari pentingnya melibatkan seluruh keluarga dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.”
Kisah serupa datang dari Kampung Burui. Petani Nereus Saun dan istrinya Jaqueline Sakat menggunakan alat perencanaan GALS untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Mereka bersama-sama memutuskan menginvestasikan pendapatan kakao untuk sekolah anak-anak.
Program ini membuktikan bahwa pangan lokal bukan sekadar tradisi, tapi juga fondasi ketahanan keluarga di Papua Nugini. (*)