Pencarian

Gubernur Papua: Pelestarian Sagu Harus Beriringan dengan Penguatan Ekonomi Masyarakat Adat

Sabtu, 20 Juni 2026 • 20:54:31 WIB
Gubernur Papua: Pelestarian Sagu Harus Beriringan dengan Penguatan Ekonomi Masyarakat Adat
Gubernur Papua Mathius D Fakhiri membuka Festival Colo Sagu 2026 di Kota Jayapura.

JAYAPURA — Gubernur Papua Mathius D Fakhiri membuka secara resmi Festival Colo Sagu 2026 di Kota Jayapura, Jumat. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pembangunan sektor sagu harus bersifat inklusif dan tidak meninggalkan akar budaya serta kearifan lokal masyarakat adat.

Mengapa Sagu Disebut Fondasi Kedaulatan Pangan Papua?

Menurut Gubernur, di tengah tantangan global dan ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah, hamparan hutan sagu di Papua menjadi modal besar untuk membangun kemandirian pangan. "Papua memiliki potensi besar melalui hamparan hutan sagu yang dapat menjadi fondasi kedaulatan pangan sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Sagu tidak hanya menjadi makanan pokok, tetapi juga bagian dari identitas dan sejarah kehidupan masyarakat adat yang diwariskan secara turun-temurun. Ia menegaskan, "Menjaga sagu berarti menjaga kehidupan, menjaga identitas, dan menjaga masa depan Papua."

Empat Pilar Strategi Pemprov untuk Ekosistem Sagu

Pemprov Papua telah menyusun sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem sagu. Pertama, perlindungan kawasan hutan sagu dari alih fungsi lahan. Kedua, pemberdayaan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat agar mereka menjadi subjek utama dalam pengelolaan.

Ketiga, pengembangan riset dan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk. Keempat, hilirisasi produk turunan sagu agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. "Pengembangan sagu juga diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat di berbagai wilayah Papua," tambah Gubernur.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Keberhasilan

Pembangunan sektor sagu, kata dia, tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak: lembaga adat, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, komunitas lingkungan, hingga masyarakat luas.

"Pembangunan Papua yang dicita-citakan adalah pembangunan yang inklusif, yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang tanpa meninggalkan akar budaya dan kearifan lokal," tegas Mathius D Fakhiri.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan sagu, melindungi tanah adat, serta mendorong inovasi dan hilirisasi produk. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari sagu dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Papua dari hulu hingga hilir.

Bagikan
Sumber: papua.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks