SORONG — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengucurkan dana revitalisasi sekolah senilai total Rp 47 miliar lebih untuk Kota Sorong dan Kabupaten Sorong di Papua Barat Daya pada 2025 dan 2026. Program ini tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga menargetkan sekolah-sekolah terdampak bencana dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Menteri Abdul Mu’ti menegaskan revitalisasi merupakan investasi jangka panjang untuk pemerataan pendidikan di Indonesia timur.
Dua Tahun Berturut-turut: Rp 26,9 Miliar untuk 27 Sekolah di 2025, Rp 20,1 Miliar untuk 39 Sekolah di 2026
Pada 2025, program revitalisasi di Kota Sorong menjangkau 12 sekolah dengan total bantuan Rp 4,9 miliar. Sementara Kabupaten Sorong memperoleh revitalisasi bagi 15 sekolah dengan nilai bantuan mencapai Rp 22 miliar. Dukungan berlanjut pada 2026, Kota Sorong ditetapkan menerima bantuan untuk lima sekolah dengan total anggaran Rp 3,6 miliar, sedangkan Kabupaten Sorong memperoleh bantuan bagi 34 sekolah dengan nilai Rp 16,5 miliar.
Bukan Sekadar Beton: Revitalisasi Digadang Dongkrak Ekonomi Lokal
Menteri Abdul Mu’ti saat meresmikan hasil revitalisasi di SMK Negeri 1 Kota Sorong, Selasa (26/5/2026), menekankan program ini dirancang untuk memberi dampak ekonomi. Pola swakelola yang diterapkan melibatkan tenaga kerja dan mitra lokal. Pada 2025, revitalisasi terhadap 16.167 satuan pendidikan secara nasional tercatat mampu menyerap sekitar 250 ribu tenaga kerja sekaligus menggerakkan perekonomian di daerah.
“Dengan revitalisasi ini tentu kami berharap tidak hanya sekolah yang kita perbaiki, tapi juga kita berusaha untuk dapat meningkatkan ekonomi lokal, dan tentu kita dapat bersama-sama memajukan pendidikan di tanah air kita,” ujar Abdul Mu’ti.
Dari Atap Bocor hingga Perpustakaan Digital: Perubahan Nyata di Dua Sekolah Sorong
Kepala SMK Negeri 1 Kota Sorong, A. H. P. Ompusunggu, mengungkapkan sebelum revitalisasi sekolahnya menghadapi keterbatasan fasilitas toilet dan perpustakaan. Dengan jumlah murid sekitar 1.600 orang dan area sekolah yang luas, kondisi itu menjadi tantangan tersendiri. Kini, tambahan fasilitas sanitasi dan pembangunan perpustakaan baru dinilai membawa perubahan signifikan.
“Kami sangat berterima kasih dengan adanya bantuan revitalisasi ini. Perpustakaan yang kami dapatkan sangat baik dan nanti akan kami kembangkan dengan perpustakaan digital,” ujarnya.
Senada, Kepala SMA Negeri 5 Kabupaten Sorong, Ficce Loppies, menyebutkan sebelum menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp 1,2 miliar, sejumlah fasilitas sekolah sudah dalam kondisi kurang layak. Mulai dari atap bocor, lantai rusak, hingga laboratorium yang membutuhkan perbaikan. Melalui revitalisasi, sekolah memperoleh rehabilitasi ruang kepala sekolah, tata usaha, ruang guru, laboratorium komputer, laboratorium kimia, laboratorium biologi, serta pembangunan satu ruang kelas baru.
Fokus Nasional: 71.744 Satuan Pendidikan Jadi Target Revitalisasi
Prioritas revitalisasi tahun 2026 difokuskan pada sekolah terdampak bencana, sekolah di daerah 3T, serta sekolah dengan tingkat kerusakan fisik berat. Secara nasional, pemerintah menargetkan revitalisasi dapat menjangkau hingga 71.744 satuan pendidikan. “Kami berkomitmen revitalisasi ini terus kami laksanakan sampai seluruh pelosok tanah air,” tegas Abdul Mu’ti.
Fakta Singkat Revitalisasi Sekolah di Papua Barat Daya:
- Total anggaran 2025-2026: Rp 47 miliar lebih untuk 66 sekolah di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
- Penerima terbanyak: Kabupaten Sorong pada 2026 dengan 34 sekolah dan anggaran Rp 16,5 miliar.
- Dampak ekonomi nasional: 250 ribu tenaga kerja terserap dari revitalisasi 16.167 sekolah pada 2025.
- Prioritas utama: Sekolah terdampak bencana, daerah 3T, dan kerusakan fisik berat.