PAPUA — inDrive hadir di tengah dominasi raksasa ride-hailing global dengan konsep yang membalik logika penetapan harga. Jika aplikasi lain menggunakan algoritma dinamis atau surge pricing yang kerap melonjak saat hujan atau jam sibuk, inDrive memberikan kendali penuh ke tangan pengguna. Penumpang bisa menawar, sopir bisa menolak atau mengajukan harga balik.
Dari Grup Facebook Jadi Aplikasi Global
Cerita inDrive dimulai dari situasi ekstrem di Yakutsk, Rusia, pada 2012. Suhu udara turun drastis hingga minus 40 derajat Celcius. Perusahaan taksi lokal memanfaatkan momen itu dengan menaikkan tarif dua kali lipat. Warga yang kesulitan lalu bereaksi. Sekelompok mahasiswa membuat grup di media sosial bernama "Independent Drivers" sebagai wadah negosiasi langsung antara penumpang dan sopir.
Filosofi itu—kebebasan memilih dan transparansi harga—menjadi fondasi perusahaan yang kemudian melakukan rebranding menjadi inDrive. Dari aksi spontan, platform ini berkembang ke lebih dari 700 kota di 45 negara.
Penumpang Pilih Sopir, Bukan Sebaliknya
Fitur unggulan inDrive adalah sistem negosiasi real-time. Penumpang memasukkan rute dan menawarkan harga. Sopir yang melihat tawaran itu punya tiga opsi: menerima, menolak, atau mengajukan penawaran balik. Setelah beberapa sopir merespons, penumpang bisa memilih berdasarkan empat kriteria: harga termurah, rating tertinggi, jenis kendaraan, atau waktu kedatangan tercepat.
Model ini berbeda dengan aplikator lain yang memasangkan penumpang dengan sopir secara otomatis. "Proses tawar-menawar menciptakan interaksi yang lebih personal antara penumpang dan sopir," tulis inDrive dalam keterangan resminya.
Komisi Lebih Rendah, Pendapatan Sopir Lebih Besar
Bagi mitra pengemudi, inDrive menawarkan keuntungan finansial yang lebih menarik. Potongan komisi hanya berkisar 10 hingga 15 persen per transaksi. Sebagai perbandingan, kompetitor biasanya memotong 20 hingga 25 persen dari tarif penumpang. Dengan selisih itu, sopir bisa membawa pulang pendapatan bersih yang lebih besar meskipun tarif yang disepakati mungkin lebih rendah dari harga pasar.
Di Indonesia, model ini dinilai cocok dengan kebiasaan masyarakat yang gemar tawar-menawar. Pertumbuhan pengguna disebut masif, meskipun perusahaan tidak merilis angka spesifik untuk pasar lokal.
Keamanan Tetap Jadi Prioritas
Meskipun berbasis negosiasi, fitur keamanan tidak dikesampingkan. Pengguna dapat membagikan lokasi perjalanan secara real-time kepada keluarga atau teman. Tidak ada biaya tersembunyi—harga yang disepakati di awal adalah harga yang dibayar. Bagi sopir, otonomi kerja juga lebih besar karena mereka tidak dipaksa mengambil orderan yang lokasinya terlalu jauh atau tarifnya terlalu rendah.