Pencarian

Festival Cahaya Kreasi di Nabire, Michael Jakarimilena Dorong Pelajar Papua Tengah Bangga pada Budaya Sendiri Lewat Cerita Sampari

Sabtu, 27 Juni 2026 • 15:10:31 WIB
Festival Cahaya Kreasi di Nabire, Michael Jakarimilena Dorong Pelajar Papua Tengah Bangga pada Budaya Sendiri Lewat Cerita Sampari
Michael Jakarimilena dan Floranesia Lantang menjadi juri lomba bertutur cerita rakyat pada Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar di Nabire.

NABIRE — Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar yang digelar di Lapangan Bandara Lama Nabire pada Jumat (26/6/2026) menjadi panggung bagi Michael Jakarimilena untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya Papua. Bersama sang istri, Floranesia Lantang, ia duduk sebagai juri lomba bertutur cerita rakyat pada hari ketiga acara tersebut.

Michael menilai, festival seperti ini sangat penting di era digital. "Ini satu ajang, satu festival bagaimana kita sebagai anak-anak Papua, khususnya anak-anak Papua Provinsi Papua Tengah, bisa terus mengenal lebih dekat, mencintai, kita bisa merasa bahwa satu kebudayaan yang adalah kita punya identitas itu tidak mungkin diakui sama orang lain, kalau bukan kita sendiri," ujarnya.

Lomba Budaya sebagai Benteng Identitas

Berbagai perlombaan, mulai dari lagu tradisional hingga bertutur cerita rakyat, dinilai Michael menjadi pengingat bahwa Papua memiliki kekayaan budaya yang tak tertandingi. Ia menekankan bahwa semua itu lahir dari "rahim Tanah Papua" yang kaya akan alam dan inspirasi.

"Orang lain bolehlah cerita kamu punya keren, tapi kita juga punya juga ada," kata Michael, menegaskan bahwa kebanggaan terhadap budaya sendiri harus dimulai dari generasi muda.

Michael mengapresiasi Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang menghadirkan festival ini secara khusus untuk pelajar dari delapan kabupaten. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Dari Dinosaurus ke Sampari: Lahirnya Serial Buku Anak Papua

Di sela-sela festival, Michael juga menceritakan kisah di balik serial buku anak Sampari yang ia ciptakan bersama istrinya. Inspirasi itu muncul dari kebiasaan putranya yang setiap hari minta dibacakan buku tentang dinosaurus.

"Anak ini dia lahir di Karawaci, Tanggerang. Jadi saya bilang, bah tidak bisa. Bapak senang baca, tapi Bapak bosan baca barang yang sudah mati yang sudah punah. Dan kau ini anak Papua," cerita Michael.

Ia pun memutuskan untuk membuat buku sendiri yang mengangkat kekayaan alam dan budaya Papua. Nama Sampari, yang berarti Bintang Kejora dalam bahasa Biak, dipilih setelah riset selama hampir satu tahun. Nama itu menjadi simbol harapan agar anak-anak Papua bersinar tanpa melupakan akar budayanya.

Cerita dari Kehidupan Sehari-hari yang Mendunia

Michael menegaskan bahwa cerita dalam serial Sampari tidak diambil dari kisah yang jauh. Semua inspirasi berasal dari lingkungan sekitar masyarakat Papua yang sehari-hari mereka jumpai.

"Kaka Michael bikin cerita burung sampari Cenderawasih ini, bukan jauh-jauh. Barangnya ada di depan mata yang setiap hari kita main, duduk di luar, menyanyi, tiba-tiba satu dia tasalah, itu yang jadi cerita," ungkapnya.

Ia menambahkan, cerita-cerita yang berakar pada budaya lokal justru sangat dihargai di kancah internasional. "Bukan Kaka Michael punya profesi sebagai penyanyi Indonesian Idol, Kaka Michael dapat undangan ke luar. Tapi, waktu Kaka Michael berdiri dengan cerita budaya, itu yang mereka undang," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: galeripapua.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks