PAPUA — Persaingan merek asal Tiongkok di panggung GIIAS 2026 berakhir dengan hasil yang timpang. Berdasarkan data yang dihimpun KatadataOTO, Sabtu (19/8), dominasi BYD tidak terbendung, sementara GWM harus rela tergeser oleh pendatang baru yang lebih agresif.
Total pemesanan yang diraih BYD selama 10 hari penyelenggaraan menembus angka 4.000 SPK. Capaian ini sekaligus menegaskan posisi BYD sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik nasional, jauh di atas para pesaingnya dari daratan Tiongkok.
SUV Boxy Jadi Primadona, iCar dan Jetour Panen Pesanan
Segmen SUV boxy terbukti menjadi magnet utama pengunjung GIIAS 2026. Sub-brand Chery Group, iCar, mengklaim berhasil mengumpulkan lebih dari 1.000 SPK. Model V23 menjadi tulang punggung dengan kontribusi 60 persen dari total pemesanan.
Model terbaru iCar yang mengusung teknologi Range Extender Electric Vehicle (REEV), yakni V27, juga ikut menyedot perhatian pengunjung pameran. Hal serupa dialami Jetour yang mengandalkan T1 i-DM dan T2 i-DM untuk mengamankan 1.038 SPK.
GAC Aion dan Wuling Ikut Menikmati Momentum Elektrifikasi
Di luar tren SUV boxy, merek yang fokus pada elektrifikasi juga mencatatkan hasil positif. GAC Aion membukukan 2.170 pemesanan, dengan Aion V sebagai model terlaris yang menyumbang 1.122 SPK.
Wuling, yang baru saja memperkenalkan mobil listrik mungil Aira EV, tidak mau ketinggalan. Pabrikan berlogo W ini mengantongi 3.290 SPK selama pameran berlangsung, menempatkannya di posisi kedua di bawah BYD.
GWM Terpuruk, Kalah dari BAIC yang Baru Satu Tahun Berlaga
Kabar kurang menggembirakan datang dari GWM. Padahal turut menawarkan SUV boxy, total pemesanan yang berhasil diamankan hanya lebih dari 350 SPK. Angka ini merosot dibandingkan perolehan GIIAS 2025 yang mencapai 400 unit dengan pilihan model yang lebih sedikit.
Penurunan ini semakin terasa ketika dibandingkan dengan BAIC. Brand asal Beijing tersebut justru sukses membukukan 407 SPK, unggul tipis atas GWM. Pihak BAIC menyebutkan bahwa SUV boxy BJ30 varian Hybrid menjadi kontributor utama dengan 201 unit terpesan.
Hasil ini menjadi sinyal bahwa konsumen Indonesia mulai jeli membandingkan nilai yang ditawarkan antar merek Tiongkok. Meski sama-sama mengusung desain boxy, persepsi harga, fitur, dan jaringan purna jual menjadi pembeda utama dalam keputusan pembelian.