Pencarian

Gletser Puncak Carstensz Papua Tersisa 16 Hektare, Peneliti Prediksi Hilang Akhir 2026

Jumat, 18 September 2026 • 08:46:32 WIB
Gletser Puncak Carstensz Papua Tersisa 16 Hektare, Peneliti Prediksi Hilang Akhir 2026

JAYAPURA — Gletser di Puncak Carstensz, yang oleh masyarakat adat Amungme disebut Nemangkawi, berada di ambang kepunahan. Riset terbaru Badan Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan lapisan es terakhir di Papua itu akan hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.

Selama berabad-abad, lapisan es menutupi sejumlah puncak di deretan pegunungan tengah Papua. Selain Carstensz, gletser pernah menyelimuti Puncak Mandala—Aplim Apom dalam bahasa komunitas adat Ngalum—dan Puncak Trikora yang disebut Ettiakup oleh masyarakat adat Hubula.

Kini hanya Carstensz yang masih menyimpan sisa es. Luasnya menyusut drastis menjadi sekitar 16 hektare.

Lebih dari 99 Persen Es Hilang Sejak 1850

Marie Sabacka, pakar ekologi gletser di Departemen Ekologi Charles University, Republik Ceko, melakukan penelitian lapangan di Gletser East Carstensz pada Maret 2026. Ia bersama Roberto Ambrosini dari Universitas Milan terlibat dalam kolaborasi ilmuwan Indonesia dan Eropa.

Tim tersebut mengumpulkan sampel inti es dangkal dan sedimen gelap dari gletser, serta tanah di sekitarnya. Tujuannya mengetahui organisme apa saja yang masih bertahan di sana.

"Hasil penelitian kami masih bersifat awal, tapi menunjukkan bahwa sisa es tersebut tidak kosong secara biologis," kata Marie kepada BBC News Indonesia.

Data historis menunjukkan skala kehilangan yang jauh lebih besar. Di seluruh sistem gletser Puncak Carstensz, lebih dari 99 persen es yang ada sekitar tahun 1850 telah hilang, merujuk studi Ibel dan kawan-kawan pada 2025.

Hilangnya lapisan es bahkan mengubah kondisi fisik pegunungan itu sendiri. Pada 1936, Puncak Ngga Pulu yang tertutup es lebih tinggi daripada Puncak Carstensz. Seiring es menyusut, ketinggian Ngga Pulu berkurang dan menjadikan Carstensz sebagai puncak tertinggi di Oseania.

Mengapa Gletser Carstensz Terus Menyusut?

Penyebab utama penyusutan gletser adalah pemanasan atmosfer jangka panjang akibat aktivitas manusia. Suhu yang lebih tinggi menaikkan batas ketinggian titik beku, sehingga lebih banyak curah hujan turun sebagai air hujan alih-alih salju.

Peristiwa El Nino dapat mempercepat hilangnya es. Curah salju, tutupan awan, radiasi matahari, dan bentuk gunung turut memengaruhi seberapa cepat proses tersebut berlangsung.

Marie menyatakan tahun pasti hilangnya gletser tidak dapat diprediksi. Namun sisa es yang ada kini sangat sedikit.

"Sisa es yang ada kini sangat sedikit sehingga kemungkinan besar seluruhnya akan hilang dalam beberapa tahun mendatang," ujarnya.

Ekosistem Mikroorganisme yang Belum Banyak Dipahami

Penelitian Marie berfokus pada kehidupan di ekosistem gletser. Temuan awal menunjukkan sisa es Carstensz menjadi habitat bagi komunitas mikroorganisme dan hewan mikroskopis yang khas.

Sebagian garis keturunan organisme tersebut jarang ditemukan atau bahkan tidak ada di banyak gletser lain dalam kumpulan data global. Hilangnya gletser berarti hilangnya ekosistem unik yang belum banyak dipahami.

Dari sisi ketersediaan air, Marie menilai gletser Carstensz bukan sumber air utama bagi masyarakat setempat. Wilayah sekitarnya menerima curah hujan tinggi, sehingga hilangnya es kemungkinan tidak menyebabkan kelangkaan air seperti yang diperkirakan terjadi di pegunungan kering Andes atau Himalaya.

Makna Budaya yang Tak Bisa Digantikan

Marie menegaskan bukan wewenangnya sebagai akademisi dari luar untuk menentukan seberapa besar masyarakat adat Papua harus khawatir. Makna budaya dan spiritual, katanya, semestinya dijelaskan oleh masyarakat setempat sendiri.

Ia hanya bisa menjelaskan kemungkinan dampak fisik dan ekologis. Dampak itulah yang kini menjadi perhatian para peneliti yang mencatat hilangnya situs paling sakral bagi sebagian komunitas adat di pegunungan tengah Papua.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bbc.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks