WAMENA — Aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di pusat Kota Wamena kini berangsur normal. Bupati Jayawijaya Atenius Murib menegaskan bahwa situasi kamtibmas telah aman dan kondusif pasca-mediasi yang melibatkan pemerintah pusat hingga tokoh adat.
Ritual Patah Panah Jadi Simbol Perdamaian Tertinggi
Prosesi “patah panah” digelar di Mapolres Jayawijaya sebagai puncak rekonsiliasi. Upacara adat ini dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ribka Haluk dan Gubernur Papua Pegunungan John Tabo.
“Kami bersyukur prosesi ‘patah panah’ telah dilaksanakan dan kedua belah pihak yang berkonflik telah sama-sama sepakat untuk menyelesaikan masalah dengan baik,” ujar Bupati Atenius Murib di Wamena, Selasa.
Pemkab Berterima Kasih ke Semua Pihak yang Mediasi
Bupati menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI, Polri, serta komponen masyarakat adat yang turun tangan mendamaikan kedua kelompok. Menurutnya, konflik serupa tidak boleh terulang karena menghambat pembangunan di wilayah administrasi Jayawijaya.
“Semua warga yang datang ke Wamena dari mana saja, supaya sama-sama ikut membangun daerah ini sehingga ketertinggalan, keterisolasian berubah jadi kemajuan yang baik di semua sektor,” kata Atenius Murib.
Fakta Singkat Pemulihan Kamtibmas di Jayawijaya
- Ritual “patah panah” digelar di Mapolres Jayawijaya sebagai simbol rekonsiliasi tertinggi masyarakat adat Papua Pegunungan.
- Mediasi melibatkan Wamendagri RI, Gubernur Papua Pegunungan, TNI, Polri, dan tokoh adat.
- Aktivitas warga di sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi sudah berjalan normal kembali.
Bupati menekankan bahwa konflik antar suku tidak boleh lagi terjadi di wilayah administrasi Pemkab Jayawijaya. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga stabilitas keamanan demi kelancaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat.