PAPUA — Pemerintah Jerman menyatakan kesiapannya menjadi mitra utama Indonesia dalam transisi energi dan pengembangan sumber daya manusia. Penawaran tersebut disampaikan langsung Presiden Frank-Walter Steinmeier dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Jerman melihat Indonesia sebagai mitra alami di kawasan Indo-Pasifik. Kami ingin memperdalam kerja sama tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga riset dan pendidikan vokasi,” kata Steinmeier dalam pernyataan pers bersama.
Investasi Hijau dan Target Karbon
Sektor energi menjadi agenda utama pembicaraan. Jerman menawarkan pendanaan proyek hidrogen hijau dan panel surya skala besar di Indonesia. Nilai investasi yang dibahas mencapai €2,5 miliar untuk lima tahun ke depan.
Kerja sama ini sejalan dengan target netralitas karbon Indonesia pada 2060. Jerman juga berkomitmen mentransfer teknologi pengolahan nikel ramah lingkungan untuk industri baterai kendaraan listrik.
Rekrutmen Tenaga Kerja dan Pendidikan Vokasi
Selain investasi, kedua negara menyepakati program rekrutmen tenaga kerja Indonesia ke Jerman di sektor perawatan lansia dan teknologi informasi. Program ini akan dijalankan melalui skema pelatihan vokasi bersertifikat Jerman.
“Kami butuh tenaga terampil. Indonesia punya populasi muda yang besar. Ini kerja sama saling menguntungkan,” ujar Steinmeier. Pemerintah Indonesia menargetkan 10.000 tenaga kerja tersalur dalam tiga tahun pertama.
Dinamika Hubungan Bilateral di Tengah Ketegangan Global
Kunjungan ini berlangsung di tengah ketegangan perdagangan antara blok Barat dan China. Indonesia dan Jerman sepakat memperkuat rantai pasok mineral kritis, termasuk nikel dan bauksit, yang selama ini bergantung pada pasar China.
Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang non-blok namun terbuka terhadap investasi asing. “Kami tidak ingin terjebak dalam persaingan kekuatan besar. Tapi kami butuh teknologi dan modal. Jerman menawarkan itu tanpa syarat politik yang mengikat,” kata Prabowo.
Kesepakatan Tambahan di Bidang Pertahanan dan Kesehatan
Kedua presiden juga menandatangani nota kesepahaman di bidang pertahanan maritim dan produksi vaksin. Jerman akan membantu modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI AL dan transfer teknologi produksi vaksin influenza serta tuberkulosis.
Kunjungan kenegaraan Presiden Jerman ini merupakan yang pertama sejak 2022. Kedua negara berencana membentuk dewan ekonomi bersama yang akan bertemu setiap enam bulan untuk memonitor realisasi kesepakatan.