PAPUA — Amran menginstruksikan langsung jajaran BGN untuk memprioritaskan pembelian telur dari peternak rakyat, bukan dari distributor besar. "Kami minta penyerapan dilakukan tiga kali seminggu. Ini untuk menjaga harga di peternak tetap menguntungkan dan stok program MBG aman," ujarnya dalam rapat koordinasi di Jakarta, kemarin.
Harga Telur di Tingkat Peternak Tertekan
Selama beberapa pekan terakhir, harga telur ayam di tingkat peternak mandek di kisaran Rp 22.000–Rp 24.000 per kilogram. Padahal, biaya produksi pakan jagung dan bibit terus naik. Akibatnya, margin peternak kecil makin tipis, bahkan sebagian menjual di bawah harga pokok produksi.
Program MBG yang menyasar jutaan anak sekolah dan ibu hamil dinilai bisa menjadi penyelamat. Dengan tambahan serapan tiga kali sepekan, BGN diperkirakan membutuhkan pasokan telur hingga puluhan ton per hari dari peternak lokal. "Ini bukan sekadar program gizi, tapi juga instrumen stabilisasi harga," tambah Amran.
Skema Penyerapan dan Target Peternak
BGN akan menyusun daftar peternak mitra di setiap wilayah, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Setiap peternak yang tergabung wajib memenuhi standar kualitas telur yang ditetapkan, termasuk ukuran, kebersihan cangkang, dan masa simpan.
Pemerintah juga menyiapkan insentif logistik untuk peternak di daerah terpencil. "Kami tidak mau peternak di pelosok justru kesulitan mengirim telur karena ongkos transportasi tinggi. Subsidi angkutan akan diatur dalam skema kerja sama dengan BGN," jelas Amran.
Dampak bagi Penerima Manfaat MBG
Dengan pasokan telur yang lebih rutin, menu MBG di sekolah-sekolah dan posyandu bisa lebih variatif. Telur menjadi sumber protein hewani murah yang mudah diolah, seperti direbus, digoreng, atau dicampur sayur. Selama ini, program MBG kerap mengandalkan protein nabati seperti tempe dan tahu karena harga daging ayam dan sapi yang lebih mahal.
Di sisi lain, peternak di daerah seperti Blitar, Boyolali, dan Lombok menyambut baik instruksi ini. Mereka berharap pembelian rutin bisa menyerap kelebihan produksi yang selama ini tidak terserap pasar. "Kalau BGN beli tiga kali seminggu, kami bisa atur jadwal panen telur lebih pasti. Tidak perlu jual murah ke tengkulak lagi," ujar seorang peternak di Jawa Timur yang enggan disebut namanya.
Ke depan, Kementerian Pertanian dan BGN akan mengevaluasi realisasi serapan setiap bulan. Jika terbukti efektif, frekuensi pembelian bisa ditingkatkan menjadi setiap hari, terutama di daerah dengan produksi telur melimpah.