Pencarian

Papuan Food Festival 2026 Resmi Dibuka di Sorong, Dua Mama Adat Suku Moi Jadi Motor Pelestarian Pangan Lokal

Kamis, 18 Juni 2026 • 13:32:01 WIB
Papuan Food Festival 2026 Resmi Dibuka di Sorong, Dua Mama Adat Suku Moi Jadi Motor Pelestarian Pangan Lokal
Asisten II Walikota Sorong membuka Papuan Food Festival 2026 yang mengangkat pelestarian pangan lokal Papua.

SORONG — Asisten II Walikota Sorong Bidang Ekonomi Pembangunan, Tamrin Tajuddin, membuka festival dengan pesan simbolis. “Kalian boleh berambut lurus, tapi hati keriting, tetap berhati Papua,” ujarnya dalam sambutan, seperti diterima Jubi, Rabu (17/6/2026).

Pembukaan dimeriahkan tarian kreasi Papua, alunan musik Belantara Papua, dan nyanyian tradisional Kain Kla yang dibawakan Mama Thea Gifelem. Suara khas mama-mama Papua menggema sebagai simbol penghormatan pada leluhur dan alam.

Keprihatinan atas Tergerusnya Pangan Tradisional

Ketua Panitia Papuan Food Festival, Salsabila Andriana, yang juga pengelola Lumbung Sagu, mengatakan festival ini lahir dari keprihatinan akan tergerusnya pengetahuan pangan tradisional di tengah gempuran pangan industri. “Festival ini dibuat untuk mengenalkan kembali, membangkitkan memori, serta mengingatkan bahwa dengan menjaga pangan lokal tetap hidup, menjaga hutan, kita sama-sama menciptakan masa depan yang lestari,” ujarnya.

Markus Wafom, Direktur Yayasan Belantara Papua, menjelaskan lembaganya membina anak-anak Papua putus sekolah. “Di sini anak-anak dilatih untuk bisa mandiri, memilih jalan sunyi, melestarikan kebudayaan,” katanya. Festival ini menjadi wajah lain dari kerja-kerja sunyi bersama komunitas akar rumput.

Dua Mama Adat: Simbol Kemandirian dan Martabat

Puncak acara diisi talkshow yang menghadirkan dua tokoh perempuan adat Suku Moi. Oyang Hana Mili, maestro tradisi Waili—tradisi piknik, meramban, dan memasak bersama Suku Moi—telah puluhan tahun mendampingi kelompok mama-mama di berbagai wilayah Papua. Kini ia fokus pada kebun dan pelestarian budaya pangan seperti Waili dan Menoken, cara mengolah sagu.

“Untuk orang Papua ada tiga hal yang tidak boleh tertinggal, yaitu parang, korek, dan sagu. Untuk potong-potong, untuk buat api, dan untuk makan,” tegas Oyang Hana Mili. Baginya, tiga alat itu bukan sekadar barang, melainkan simbol kemandirian dan martabat orang Papua.

Mama Batseba Mobilala, ketua kelompok mama Yuluk Malagufuk dari Kampung Wisata Malagufuk yang terkenal dengan wisata burung cenderawasih, menceritakan pengalamannya mengelola kunjungan wisatawan mancanegara. Ia sendiri yang mencatat pembukuan, mengatur jadwal memasak bergilir, dan merekap pemasukan untuk dibagi rata. “Kalau hutan ini hilang, bagaimana kita mau hidup, bagaimana anak cucu kita makan ke depannya,” ujarnya.

Pameran dan Instalasi Interaktif: Menggugah Kesadaran

Usai talkshow, para tamu mengunjungi pameran “Oyang Hana: Maestra Waili” yang menyajikan pengetahuan pangan Suku Moi secara mendalam. Dua instalasi utama menjadi pusat perhatian. Pertama, Lumbung Pangan berisi bahan lokal seperti sagu, keladi, petatas, kasbi, dan noken berisi umbi-umbian, menggambarkan kemandirian pangan orang Papua.

Kedua, Instalasi Interaktif Hutan Belantara berupa deretan pohon yang menggambarkan hutan yang telah ditebang. Pengunjung diajak menuliskan harapan untuk hutan Papua dan pangan lokal pada kertas yang digantung di sana. Ruangan ini juga diresmikan sebagai memorial untuk almarhum Max Binur, tokoh pendiri Belantara Papua.

Acara ditutup dengan demo memasak menggunakan bambu, dipandu langsung oleh Mama Batseba, Mama Thea, dan Oyang Hana. Berbagai menu tradisional disajikan sebagai bukti kekayaan gastronomi lokal yang perlu terus dijaga.

Bagikan
Sumber: jubi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks