JAYAPURA — Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Papua Andry menyampaikan arahan pemantauan itu di Jayapura, Senin. Menurut dia, langkah tersebut untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat menjelang hari besar keagamaan nasional.
Data TPID Provinsi Papua menunjukkan IPH turun bertahap dalam tiga minggu terakhir Oktober 2026. Angka 2,64 pada minggu pertama, 2,50 pada minggu kedua, lalu 2,40 pada minggu ketiga.
Tiga Komoditas Penyumbang Kenaikan IPH Papua
Cabai merah memberi andil terbesar terhadap kenaikan IPH Papua dengan angka 1,31844. Disusul cabai rawit 0,838867 dan daging ayam ras 0,286727.
"Berdasarkan data TPID Provinsi Papua hingga minggu ketiga Oktober 2026, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Papua tercatat sebesar 2,40, lebih rendah dibandingkan minggu pertama Oktober sebesar 2,64 dan minggu kedua sebesar 2,50," kata Andry.
Biak Numfor Catat IPH 8,38, Tertinggi di Papua
Kabupaten Biak Numfor menjadi daerah dengan tekanan harga paling menonjol. IPH di sana tercatat 8,38 pada minggu ketiga Oktober 2026, jauh di atas rata-rata provinsi.
Cabai merah, cabai rawit, dan daging ayam ras menjadi komoditas utama penyumbang perubahan harga di Biak Numfor. Sementara Kabupaten Keerom mencatat IPH 2,60 pada periode yang sama, dengan kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan telur ayam ras sebagai penyumbang utama.
"Sejumlah daerah masih memerlukan perhatian dalam pengendalian harga, terutama Kabupaten Biak Numfor dan Keerom," ujar Andry.
Pasokan dan Distribusi Jadi Kunci Jelang Natal
Selain memantau perkembangan harga, TPID kabupaten/kota diminta memperhatikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan. Kebutuhan masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru harus terpenuhi.
Andry menambahkan, ketersediaan stok dan kelancaran jalur distribusi menjadi penentu apakah lonjakan harga bisa ditekan. Dua faktor itu disebutnya sama pentingnya dengan pemantauan angka harian di pasar.
Inflasi Tahunan Papua 3,00 Persen pada September 2026
Badan Pusat Statistik mencatat Papua mengalami inflasi tahunan sebesar 3,00 persen pada September 2026 dengan Indeks Harga Konsumen 108,09. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,29 persen.
Secara tahun kalender, Papua justru mengalami deflasi 0,23 persen. Kombinasi angka itu menunjukkan tekanan harga bersifat musiman dan terkonsentrasi pada komoditas tertentu, terutama cabai dan protein hewani.
Pemprov Papua meminta TPID kabupaten/kota melaporkan perkembangan harga secara berkala hingga akhir tahun. Fokus pengawasan diarahkan ke daerah dengan IPH tinggi agar gejolak harga tidak merambat ke kabupaten lain.